"Hadirilah Sidang Disertasi Doktoral Bapak Tuan Guru Bajang TGKH. M. Zainul Majdi, M.A, nanti hari Sabtu, 8 Januari 2011 M, pukul: 10:00 Waktu Kairo, di Aula Syeikh Abdul Halim Mahmud Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar Kairo " " Pokoknya NW, Pokok NW Iman & Taqwa " " Inna Akromakun Indi Anfa'ukum Linahdlatil Wathan Wainna Syarrokum Indi Adhorrukum Binahdlatil Wathan " " Dewan Tanfidziyah Perwakilan Khusus Nahdlatul Wathan Mesir Periode VI Masa Bakti 2010-2011 "

Wednesday, November 25, 2009

Perbedaan Menajdi Sebuah Keharusan…!!!

Menurut penulis kalimat “perbedaan menjadi sebuah keharusan…!!! adalah sebuah slogan, kalau pembaca mungkin menganggapnya bukan selogan entah apa istilah yang menurut pembaca yang tepat menurut latar belakang pendidikan kita dan kita melihatnya dari sudut pandang apa…tentunya…! Eh kok memandang yang sudut sich…maksudnya..?? penulis ingin menekankan bahwa dalam memandang sesuatu setiap orang akan berbeda pendapatnya sesuai dengan posisi dan sesuai dengan keadaannya..!! sebelum terlalu dalam kita masuk membahas tentang perbedaan sebaiknya kita tinjau pendapat para ulama’ senior kita (hehe alnya kitakan masih junior amiiin!!) tentang apa itu perbedaan.


Dalam bahasa araab perbedaan sering diistilahkan ‘ikhtilaaf’ atau mukhalafah’ yang artinya menentukan sebuah sikap yang berbeda dengan yang lainnya baik dalam baik dalam tingkah laku maupun ucapan..sedangkan istilah khilaf lebih umum dari berlawanan sebab semua berlawanan pasti akan berbeda dan tidak semua yang berbeda akan berlawanan…sehingga kalau kita merenungkan tuntunan Allah dalam Al-Qur’an dalam menggambarkan perbedaan yang terjadi dalam manusia baik dalam hal penciptaan maupun dalam berpendapat Allah menggunakan kata إختلف dan tidak menggunakan kata خلف .
Mari kita lihat dalam Alqur’an surah maryam ayat 37 (فاختلف الآحزاب ..... ) demikian juga dalam surah Hud ayat 118(.....ولا يزا لون مختلفين) berarti perbedaan adalah sunnah Allah Lebih dalam lagi kita menulusuri alqur’an Dlam surah Fhatir ayat 7-8 Allah berfirman
(ألم تر أن الله أنزل من السماء ماء فأخرجنا به مختلفا ألوانها .........ومن الناس والدواب والانعام مختلف ألوانه كذالك .... )
Demikian juga dalam surah azzaariyat ayat 49 ( ومن كل شيئى خلقنا زوجين لعلكم تذكرون )….
nah kalau begitu kenapa bisa terjadi ikhtilaf..???
Menurut hasil riset para ulama’ senior kita ada dua hal yang junior bisa sampaikan secara garis besar nah kalau secar garis kecilnya biar pembaca aja yang melengkapinya …biar terjadi ikhtilaf ..!!
1. Perbedaan tingkat keceerdasan dan pemahaman
Dalam shahih bukhari dijelskan bahwa rasulullah SAW bersabda sebagaimana yang diriwayatkan oleh Muawiyah RA “ من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين وإنما أنا قاسم والله عز و جل يعطي... )nah yang jadi smartvoipnya adalah kata “ " وإنما أنا قاسمbahwasanya rasulullah SAW membagi ilmu kepaada semua sahabat sama namun dalam hal pemahamn itu berbeda sehingga terjadi perbedaan pendpat serta patawa di antara para kibar sahabiyyiin contoh dalam hal pembgian gonimah sayyidina abu bakar membagi rata semua sahabat tanpa membedakan strata sahabat tersebut berbeda dengan syyidina umar ra beliau membagi harta gonimah dengan membedakan strata para sahabat.
bahkan ada kisah yang sangat indah yang terjadi diantara sahabat dalam tafsir attobary diceritkan ada seorang laki-laki minta fatwa kepada sayyidiana ali ra kemudian ia bertemu dengan syyidina umar dan menceritakan kejadiannya lalu syyidina umar berkata kalau menurutku berbeda dengan pendapat ali ra laki-laki itu berkata terus apa yang menghalangi tuan untuk menghukumi seperti itu padahal tuan adalah amiril mukminin ,,sayyidina umar menjawb seaandainya masalah ini ada dalam alqur’an dan hdits niscaya akan kulakukan akan tetapi ini adalah masalah pendapat dan pendapat itu sama dan aku tidak tahu mana pendapat yang paling benar…!!
2. Berbeda cara pandang dalam nash alquran dan sunnah sesuai dengan tingkat pemahaman
Dalam memknai ini DR Muhammad saalim memberikn penerngan bahwa aqal itu berbeda kemampuannya dalam menelurkan hokum-hukum dalam menenlurkan hukum-hukum dari nash daan berbeda tingkat kemmpuan dalam hal mengethui tingkat maslshat mupun mafsadatnya juga mamfaat maupun mudaratnya dan itu bersumber dari satu nash yang sama dan mempunyai tujuan yang sama yaitu mendpatkan maslahatnya dan menolak mudharatnya….
Nah berarti jeleknya dimana??? beliau melanjutkan lagi bahwa tempat jelekny dlah taashshub berelebihan dengan sebuah fatwa atau pemikiran sehingga menjadikan pengikutnya menganggap bahwa kebenaran haqiqi hanya ada dalam kelompoknya atau thoriqohnya dn menganggap bahwa hanya mereka yang memiliki kunci hikamah itu dan orang lain tidak mendapatkannya dan merasa hanya pendpatnya yang benar yang lainnya salah..!!wah keras juga ini senior kita kasih suntikan buat pembca yang sudah senior dan terutama penulis yang masih junior…!!!
Cara Para sahabt menyikapi sebuh perbedaan…!!!
wah ini penting bagi yang ingin melkskannya kalu gak….!!h asl tulis aja dehhh..!!habis pembhsannnya perbedan y harus beda….
1. perbedaan bukan terjadi disebabkan dengan msalah kepentingan melainkn amanat ilmiyah murni
2. mereka saling menghormati perbedaan pendapat sebagaimana kisah umar tadi
3. perbedaan bukan terjadi dalam masalah ushul akan tetpi masalah puru’ saja dalam hal syri’ah maupun aqidah’..hati2 tanda kutip..!
4. persudraan sebagai muslim yang mengikat diantara mereka yang sangat urgen tidk tergoyahkan dan berat diatas perbedaaan…!!!
Terakhir yaa …ni terakhir pembaca sebuah qoidah ulama’ dalaam menyikapi sebuah perbedaan …tulis arab aja yaa biar kelihatan keren..!! “وكان كل منهم يرى
Oleh: Sukarnawadi, S.Pd

Baca selengkapnya...

Mencermati PR Utama PwK NW-Mesir

Semenjak tahun 2003 hingga kini, warga NW di Mesir senantiasa termotivasi untuk terus mengkaji literatur-literatur NW, melestarikan ritual-ritual NW, serta merayakan hari-hari besar NW di bawah tenda unik bermerek PwK NW-Mesir. Sudah menjadi lumrah ketika sayap PwK NW Mesir kini semakin dibentangkan demi tercapainya cita-cita umat dan bangsa. Sudah saatnya jualah PwK NW-Mesir terus berupaya semaksimal mungkin mempertahankan (atau mengembalikan) otentitas NW yang belakangan tampak semakin sirna dan pudar. Mengapa?.
Dalam aspek-aspek prinispil berupa akidah dan syariah, PwK NW-Mesir seharusnya sadar bahwa NW merupakan organisasi Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang anti wahabisme. Bukan hanya itu, seluruh anggota PwK NW-Mesir ¬(yang menjadi harapan serius NW di pusatnya) pun wajib menyadari bahwa NW adalah oragnisasi anti teokrasi!. Ini poin penting, karena apabila wahabisasi dan teokratisasi dibiarkan marak dan fenomenal di tubuh PwK NW-Mesir atau NW pada umumnya, maka otentitas NW sangat layak diprihatinkan!.


PR utama PwK NW-Mesir -di mata penulis- adalah menangkis wahabisasi dan teokratisasi tersebut. Tiada lain karena sangat berkenaan dengan asas serta prinsip-prinsip dasar NW, baik NW Pancor maupun NW Anjani!. Nah, dalam mengerjakan PR ini, tidak salah apabila kita menyontek (tepatnya mengambil pelajaran) dari ormas-ormas lain yang -secara kasat mata- lebih berjaya dan patut diteladani.
Kita lirik NU dan Muhammadiyah sebagai dua sayap besar umat Islam di Tanah Air. Keduanya senantiasa optimis bahwa Pancasila dan UUD '45 sudah tepat menghakimi warga Indonesia meskipun mayoritasnya beragama Islam. Sebab, Islam yang dikembangkan NU dan Muhammadiyah adalah Islam yang moderat dan toleran, laiknya Islam yang dibawa walisongo ke bumi Nusantara. Moderatisme dan toleransi itulah yang sejak dulu dijunjung tinggi oleh Pancasila dan UUD '45.
Hemat penulis, NW pun demikian. Islamnya NW adalah moderat dan toleran. Tidak seperti Islamnya golongan lain (khususnya wahabi) yang ekstrim dan diskriminatif meski menjanjikan kesejahteraan. Janji palsu itu terbukti melalui pembongkaran faktual buku "Ilusi Negara Islam" karya KH. Abdurrahman Wahid (mantan Presiden RI), Prof. Dr. Ahmad Syafi'i Ma'arif (Penasehat PP Muhammadiyah) dan KH. A. Mustofa Bisri (Rais Syuriah PBNU). Buku tebal itu secara realistis mempertahankan otentitas NU dan Muhammadiyah dalam mewujudkan visi dan misinya membela Pancasila dan UUD '45 sebagai dasar negara Indonesia.
Yang menarik perhatian dalam buku tersebut ialah dilampirkannya surat keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah (1 Desember 2006) untuk membersihkan Muhammadiyah dari PKS karena tidak sehaluan dengan khittah Muhammadiyah yang moderat, toleran dan menyeluruh. SK tersebut ditandatangani oleh Ketua Umum Muhammadiyah sendiri, Prof. Dr. Din Syamsuddin, MA.
Selain SKPP Muhammadiyah, dilampirkan pula keputusan Majelis Bahtsul Masa'il NU (2007) tentang khilafah dan formalisasi syariah. Keputusan berharga itu mengadopsi banyak kitab terpercaya tentang tidak bolehnya merubah bentuk dan dasar hukum negara dengan bentuk lain apabila menimbulkan kerugian yang lebih fatal atau melalui jalur yang inkonstitusional. Berikut dilampirkan dokumen-dokumen penolakan PBNU (2006-2009) terhadap ideologi dan gerakan ekstremis transnasional yang mengkampanyekan Khilafah Islamiyah.
Sejak dulu, NU menganut keyakinan bahwa syariat Islam dapat diimplementasikan tanpa harus melalui institusi formal. NU lebih mengidealkan substansi nilai-nilai syariah terimplementasi di dalam masyarakat ketimbang mengidealisasikan institusi. Bahkan KH. Sahal Mahfuz selaku Rektor Institut Islam NU menegaskan bahwa NKRI dengan dasar Pancasila sudah merupakan bentuk final bagi bangsa Indonesia!.
Tak ketinggalan Ketua Umum PBNU, KH. Hasyim Muzadi meminta warga nahdliyin dan umat Islam pada umumnya untuk waspada atas munculnya wacana Khilafah Islamiyah yang kerap dihembuskan oleh kelompok-kelompok Islam radikal yang sebetulnya hanya merupakan gerakan-gerakan politik dan bukan gerakan keagamaan. Seperti jualah Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, Al-Qaeda, Mujahidin, dan lain-lain yang sama sekali tidak relevan dengan kondisi dan kultur Indonesia, bahkan di Arab dan Timur Tengah pun tak kunjung diindahkan!.
Penulis faham serta yakin, NU dan Muhammadiyah tidak mungkin membenci hukum Islam, akan tetapi menjalankan UUD ‘45 -meskipun produk manusia- sungguh lebih aman dan lebih selamat daripada menerapkan hukum Tuhan secara keliru dan sembarangan!. Sangat logis apabila seorang sekuler bersikeras memisahkan otoritas keagamaan (hukum Islam) dari kekuasaan politik, sebab peminat teokrasi itu sendiri belum mengerti sedikitpun tentang esensi hukum Islam; dimana relevansinya masih fleksibel, penerapannya pun sungguh multi tafsir dan kompleks!.
Jika itu kebijakan dan ketegasan NU dan Muhammadiyah sebagai dua organisasi Islam Ahlussunnah wal Jamaah terbesar di Indonesia (bahkan di dunia), maka setiap warga NW wajib sadar bahwa TGKH. M. Zainuddin Abdul Majid pun menjadikan Pancasila sebagai asas NW-nya. Dalam poin ini, NW tidak berbeda dengan NU dan Muhammadiyah. So, jika saat ini dan kedepan, NW ingin tampil beda dan membiarkan dirinya terbius oleh virus-virus politis teokratis bersampul Islam, maka yakinlah, NU dan Muhammadiyah tetap lebih besar dan semakin besar, sedang NW semakin menjauh dari otentitasnya dan segera dikuasai dai-dai berhati setan!. Wal-iyadzu billah.
PR penting, bukan ?!?
Oleh: Abdul Aziz Sukarnawadi, Lc.

Baca selengkapnya...

Monday, November 16, 2009

Nahdlatul Wathan, Organisasi Antik Yang Nyaris Dimuseumkan

Berbeda dengan NU, NW adalah ormas yang lebih kecil sekecil lokasi berdirinya. Namun meski pulau Lombok terlihat kecil, gunungnya amatlah tinggi. Bahkan pendiri NW sendiri tak ragu-ragu menyatakan, gunung rinjani adalah gunung tertinggi sepermukaan bumi!. Apapun mitosnya, NW adalah ormas yang berperan sangat besar terhadap Islamisasi pulau Lombok dan NTB umumnya. Bagi penulis, kehadiran Tuan Guru Muhammad Zainuddin Abdul Majid dan NW-nya patut disykuri dan dibanggakan. Bukan hanya itu, NW harus diuniversalkan sebagaimana yang Syeikh Zainuddin sendiri cita-citakan.


Memang, universalisasi sebuah organisasi tidak dapat dijangkau dalam waktu yang singkat. Kita harus meninjau lebih dahulu berbagai aspek yang meliputi urgensitas ormas tersebut. Mengapa NW harus mendunia? Pertanyaan inilah yang penulis coba jawab dalam catatan sederhana ini, dan secara cukup spesial penulis persembahkan kepada seluruh warga dan pemuka Nahdlatul Wathan yang ada di setiap penjuru bumi.

Pertama, kemampuan NW dalam mengislamkan Lombok kerapkali diabaikan latar belakangnya oleh masyarakat Lombok itu sendiri. Bagi penulis, perjuangan NW menjadi 100% sukses sebetulnya disebabkan oleh metodologi Syeikh Zainuddin dalam menjalankan dakwahnya, tepatnya adalah metode sufi yang plural, damai dan ampuh, mirip dengan metode walisongo dan pendiri NU di pulau Jawa. Terbukti dari teologi dan mazhab fikih yang ia anut, maupun tarekat sufi yang digagasnya. Dari sini kita harus belajar bagaimana berupaya semaksimal mungkin untuk selalu memprioritaskan kereta sufi saat melintasi rel dakwah kita. Itu pertama.

Selanjutnya, tradisi sufi semacam hiziban, wiridan, selawatan dan ziarah maqam yang begitu indah dijalankan warga NW ternyata memiliki kekuatan tersendiri yang mampu menuntun secara halus kepada sebuah modifikasi positif yang dahsyat dan ketentraman nurani yang kian menciptakan kenyamanan abadi bagi segenap penduduk Lombok. Bahkan penulis berani berkeyakinan, pulau Lombok yang barangkali sensitif dan rawan bencana alam, senantiasa terselamatkan oleh tradisi tersebut. Artinya, tradisi mulia itu wajib kita lestarikan!.
Ormas NW sebagai organisasi sosial, pendidikan dan dakwah tidak jauh dari ramuan-ramuan khas yang disajikan leluhur-leluhur sufi terdahulu. Bukan hanya metode dakwahnya saja, akan tetapi juga dalam menerapkan pendidikan formal maupun non-formal. Etika murid terhadap guru misalnya, atau membaca selawat sebelum mulai belajar di sekolah, dan masih banyak lagi contoh lainnya. Demikian halnya dalam kehidupan bermasyarakat, sudah tidak diragukan lagi bagaimana Syeikh Zainuddin menjadikan disiplin tasawuf sebagai acuan terpenting demi sebuah stabilitas sosial. Semua ini perlu kita kontemplasikan lebih dahulu sebelum berbicara tentang universalisasi Nahdlatul Wathan!.

Mengenal identitas diri sendiri jauh lebih penting sebelum memperkenalkanknya ke orang lain. Meskipun saat ini NW sudah dikenal namanya di mana-mana, hanya saja pengenalan itu belum mampu menyaingi momen-momen indah semasa Syeikh Zainuddin masih bernafas di dunia. Artinya, NW jangan sampai kehilangan identitasnya, begitu juga pemimpin NW masa kini, jangan sampai menggunakan metode lain dengan alasan tasawuf sudah tidak relevan lagi. Lebih riskan lagi apabila sang pemimpin itu ternyata buta tasawuf dan tarekat!.
Satu hal yang tak kalah ironisnya, ketika golongan-golongan anti sufi merasuki NW, kita tidak bertindak tegas, khususnya terhadap mereka yang mereferensikan Ibnu Taimiah dan Ibn al-Qayyim dalam berdakwah, ataupun bersandar pada IM dan HT saat berpolitik dan berteokrasi. Padahal dalam hizib NW, Syeikh Zainuddin begitu tegas menganjurkan kita untuk membaca kitab-kitab penolak wahabi dan pembela sufi. Mengapa ketika sebuah tarekat sufi tertentu hadir di tengah-tengah NW, kita justru mudah menyorot dan memproblemkannya?! Ini merupakan diskriminasi berlebihan, dan setinggi apapun nilai toleransi yang kita junjung, kasus semacam ini perlu kita pelajari kembali agar otentitas NW tidak menjumpai ajalnya!.

Perkara lain yang juga mengkontaminasi ketulenan NW dan menghambat kejayaannya adalah, upaya-upaya liberalisasi pemikiran nahdliyin yang acapkali disalahfungsikan. Bagi penulis, warga NW memang harus berpikiran terbuka, modern dan plural, jangan terlalu primitif, puritan, beku dan klasik serta takut kepada pembaharuan. Hanya saja, tatkala liberalisasi itu melalui jalur yang uncontrolled, justru akan memusnahkan nilai-nilai ke-NW-an yang telah diperjuangakan Syeikh Zainuddin selama puluhan tahun. Bahkan nilai-nilai ke-Islam-an pun menjadi sirna dan pudar!.

Penulis cukup berambisi dalam melakukan sebuah purifikasi positif terhadap NW. Itu lebih prioritas dan urgen sebelum memajukan dan men-dunia-kannya. Pada tahun 2003, penulis didampingi sejumlah kawan mendirikan sebuah organisasi perwakilan NW di Mesir. Misinya tidak jauh dari purifikasi tersebut, sekaligus melakukan kajian-kajian ke-NW-an agar dapat mencetak pejuang-pejuang NW yang handal di masa mendatang. Alhamdulillah penulis terpilih sebagai ketua pertama perwakilan tersebut.

Pada tahun 2006, dalam acara ulang tahun NW yang ke-71 di Mesir, penulis selaku penceramah menghimbau agar NW jangan merangkak lagi, tapi bisa berjalan dan berlari, bila perlu menggunakan kendaraan terlaju dan jangan sampai mogok. Dan yang lebih penting dari itu, NW berjalan ke depan, bukan ke belakang!.

Penulis menambahkan bahwa kata Nahdlatul Wathan berarti kebangkitan bangsa. Sedikit tidak, misi utama pendiri NW adalah membangkitkan Indonesia dari segala sisinya. Nah, membangkitkan sebuah negara haruslah dimulai dari pembangkitan diri sendiri, dan itulah visi tasawuf yang diajarkan Syeikh Zainuddin, dimana tasawuf sebetulnya tidak menuhankan individualisme dan eksklusifisme, akan tetapi merubah dunia dan memperbaikinya dengan sebuah start berupa perbaikan diri sendiri dan pengukuhan spirit hamba dengan Yang Maha Esa.

Di waktu yang sama, penulis menyatakan kekhawatiran penulis apabila keterbelakangan provinsi NTB disebabkan kekakuan NW dalam menghadapi perkembangan zaman yang kini serba modern dan plural. Paling tidak kita harus toleran dan siap menerima perbedaan untuk menghindari perpecahan ataupun keterbelakangan dan agar NW ini tidak mati sendiri oleh seleksi alam. Itu pula visi tasawuf yang sejak dulu meneladankan toleransi dan kedamaian menuju sebuah kemajuan dan kejayaan.

Sekali lagi, sejarah sudah membuktikan bahwa tasawuf lah kunci kejayaan NW. Tasawuf adalah kunci kebangkitan bangsa (Nahdlatul Wathan). Dari itu, pertanyaan "mengapa NW harus mendunia" di atas dapat terjawab dengan "karena NW adalah organisasi sufi", dimana sufisme NW (atau sufisme Islam secara umum) memang harus diuniversalkan demi sebuah kejayaan yang esensial, dan demi kemerdekaan umat dari jajahan-jajahan wahabi serta antek-anteknya!. Kalau tidak, maka NW dapat saja besar namun jauh dari otentitasnya bak NW di masa Syeikh Zainuddin. Atau, NW menjadi organisasi antik yang nyaris dimuseumkan!.
Salah satu contoh (untuk direnungkan) adalah sewaktu penulis pulang ke Tanah Air November 2008 yang lalu, pertanyaan yang tak jarang dilontarkan ke penulis ialah seputar membalikkan tangan (mengarahkan telapak tangan ke bawah) sewaktu qunut. Saat itu penulis hanya menjawab tidak ada nash yang tegas melarang hal tersebut. Kemudian membalikkan tangan merupakan sebuah ekspresi penolakan, sehingga cukup fithri apabila seseorang membalikkan tangannya di saat menolak suatu bala'. Dan Islam adalah agama fithrah.

Akan tetapi setelah kakak penulis pulang pada bulan Mei 2009, ternyata pertanyaan itu masih terus berkumandang. Aneh, padahal masalah itu sudah kuno dan basi. Artinya, telah dituntaskan para ulama dan fuqaha terdahulu. Membalikkan tangan saat berdoa menolak bala' pun dilakukan mayoritas umat Islam di seluruh dunia dan di setiap masa, sejak dahulu kala sampai detik ini juga. Penulis yakin para penanya itu sebetulnya telah terkontaminasi oleh doktrin-doktrin wahabi yang secara halus merasuki keyakinan kaum nahdliyin di Lombok, baik melalui sebuah parpol ataupun gerakan semi jihad!.

Dalam Shahih Muslim telah diriwayatkan dari Saidina Tsabit dari Saidina Anas bahwa Rasulullah Saw. sewaktu berdoa saat istisqa', beliau menghadapkan punggung tangan beliau ke arah langit. Berdasakan riwayat tersebut, Imam Nawawi dalam syarah beliau menyatakan bahwa para ulama telah memfatwakan sunnah membalikkan tangan dalam setiap kali berdoa menolak bala' (tidak hanya dalam istisqa' saja). Sedangkan ketika memohon sesuatu untuk diraihnya, maka tangan dikembalikan seperti semula.

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani pun mengutip pernyataan Imam Nawawi di atas dalam kitab "Fathul Bari". Dalam Sunan Abi Daud pun disebutkan pernyataan yang sama, yakni saat istisqa' Rasulullah Saw. menghadapkan telapak tangan beliau ke arah tanah (ke bawah) hingga nampak jelas ketiak suci beliau Saw.

Selanjutnya, dalam kitab tafsir "Fathul Qadir", Imam al-Syaukani menafsirkan ayat 90 surat al-Anbiya' yang berbunyi "Yad'unana raghaban wa rahaban" dengan penafsiran bahwa "raghaban" maksudnya berdoa dengan menjadikan telapak tangan di atas, sementara "rahaban" dibalikkan ke bawah.
Senada diterangkan Imam al-Shan'ani dalam kitab "Subul al-Salam" dan Imam Ali bin Abi Bakr al-Haitsami dalam kitab "Majma' al-Zawa'id" maupun imam-imam lainnya. Demikian analisa ulama terpercaya seputar membalikkan tangan saat berdoa menolak bala’. Selain bala’, semoga Tuhan pun menyelamatkan kita dan NW dari penyakit fatal bernama ghaba’ (kebodohan), Amien!.
Misal lainnya ketika penghormatan dan pemuliaan warga NW kepada para ulama setempat dipandang menjerumus kepada pengkultusan dan fanatisme buta. Demikian pula ketika Jamaah Wirid Khusus (Tarekat Hizib) NW dan parade kesaktiannya terus dipermasalahkan oleh komunitas -sok- terpelajar dengan beraneka dalih mereka. Tak ketinggalan tradisi hiziban, perayaan maulid, pembacaan barzanji, dzikir berjamaah, dll. semakin meminim, dijauhi bahkan dipertentangkan warga NW itu sendiri. Semua itu tiada lain disebabkan oleh kebutaan yang semakin parah terhadap nilai-nilai sufisme Islam dan moderatismenya!.

Dalam hal ini, penulis sangat berterima kasih kepada kakanda, TGH. Sholah Sukarnawadi, Lc. atas buku berseri yang kini hangat diluncurkannya di tengah-tengah NW dengan sebuah judul unik yaitu “NW: No Wahabi”. Buku berseri ini meski tampak sederhana dan hanya untuk kalangan sendiri, namun ia sangat mampu menggandeng sekaligus menuntun warga NW menuju alam yang lebih terang benderang, dengan sebuah revolusi spiritual dan pencerahan intelektual yang belum pernah ditempuh para pemuka NW di Lombok!.
Sekali lagi, inti dan titik terberat catatan ini ialah pelestarian tradisi NW yang berbasis sufi demi sebuah kejayaan yang lebih gemilang di masa mendatang. Karena sungguh, “tasawuf memiliki peranan mulia yang luara biasa besar dalam menyebarkan agama Islam serta menyampaikannya ke banyak suku dan bangsa yang masih buta agama. Orang-orang tasawuf lah yang telah berhasil mendekatkan hati kepada Islam melalui keseharian dan perilaku yang mulia serta kehidupan yang betul-betul mencerminkan Islam secara esensial dalam kemudahan dan keindahannya”. Demikian ungkap Prof. Dr. Muhammad Rasyad Abdul Aziz Dahmesh, mantan Dekan Fakultas Studi Islam dan Bahasa Arab di Universitas al-Azhar Mesir.
Bagaimana? Masih bersedia memperjuangkan NW ?!?.

Baca selengkapnya...

  © Blogger template 'Ladybird' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP