"Hadirilah Sidang Disertasi Doktoral Bapak Tuan Guru Bajang TGKH. M. Zainul Majdi, M.A, nanti hari Sabtu, 8 Januari 2011 M, pukul: 10:00 Waktu Kairo, di Aula Syeikh Abdul Halim Mahmud Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar Kairo " " Pokoknya NW, Pokok NW Iman & Taqwa " " Inna Akromakun Indi Anfa'ukum Linahdlatil Wathan Wainna Syarrokum Indi Adhorrukum Binahdlatil Wathan " " Dewan Tanfidziyah Perwakilan Khusus Nahdlatul Wathan Mesir Periode VI Masa Bakti 2010-2011 "

Sunday, December 6, 2009

Pengaduan

setiap hari yang tidak sama...
di mana manusia berubah...
dapatkah ia lebih bijak dari waktu ke waktu
bertambah yakin dan iman...?
atau kah hanya biarkan dirinya menderita...
merugi???
sambil menghitung detik2 kematian...
takutkan kehilangan...
seolah-olah dunia di hatinya
seolah-olah harta membuntutinya
seolah-olah takkan terpisahkan
dengan orang2 terkasih..



adakah sama mata yg menangisi dunia
dengan mata yang basah menangisi dosa?
adakah sama hati yg bening karena cintaNya
dengan yg ternoda karena makhlukNya?
Adakah semangat yang membaja….
Selain ketika hamba bergantung pada Tuhannya?

Jika Allah Maha Gayyur...
layakkah hati resah karena selainNya?

manusia tak punya daya
jika bukan karena rahmat dan petunjukNya...
Allah al-Shomad, tempat bergantung satu2nya...

ku namakan ini perjuangan
di mana tak ada kata pengorbanan.....
karena yg ada hanya peluang keikhlasan untuk Rabb

ya Allah...
Ampuni dosa2 ku, orang tua ku,
mereka2 yg ku sayangi
mereka2 yg Kau cintai
Ampuni semua dosa orang muslim
hapus kesedihan mereka yg lemah...
gantikan dengan kekuatan karena Engkau,
kasihi kami, rahmati kami...
karena jiwa kami ada padaMu

Baca selengkapnya...

Aku Lelaki

Kamar losmen yang baru saja aku sewa nampak begitu suram. Harusnya tidak begitu, karena lampu besar yang dipasang cukup menerangi seisi kamar, bahkan nyaris menyilaukan. Ukuran kamar juga cukup besar untuk kutinggali seorang diri. Tapi aku tak menikmatinya dan tak mampu menikmati apapun malam ini. Aku merasa dunia sangat sempit. Hatiku terlalu gelap, entah karena terkotori oleh egoku atau lelahku pada kehidupan ini. Entah, aku lelaki terpasung dalam bisu. Lelaki yang merasa ingin pergi jauh dan membuktikan pada dunia bahwa aku mampu menjadi lelaki dengan caraku sendiri.



Aku seperti mencari sesuatu, tanpa mengerti apa. Persetan dengan mereka yang telah bersusah payah mendidikku jadi lelaki dahulu. Aku muak! Aku tak bahagia. Aku ingin menikmati masa mudaku semau hati tanpa seorang pun melarang. Persetan dengan ayah yang sok militan mendidikku. Apalagi ibu yang kini tak berdaya apa-apa atasku. Perempuan itu kini hanya mampu mengeluh di atas kursi rodanya. Dia memang sudah lemah dan renta kini, terlihat lebih tua dari usia sebenarnya. Apakah setiap saat aku harus bersusah payah merawatnya? Menghabiskan banyak waktuku hanya untuk membantunya melakukan sesuatu?

Setan hitam bersarang di jiwaku kini. Aku tersenyum kecewa, mengingat kejadian memuakkan tadi sore, sebelum aku menginjakkan kaki di losmen ini. Ya, selama ini aku selalu mematuhi apa kata ayah, dari kecil tak pernah berani membantah. Bagiku ayah adalah sosok tegas yang terlalu berwibawa di mataku. Aku anak satu-satu nya, lelaki satu-satunya. Ayah mendidikku terlampau keras, sampai-sampai aku merasa tak pernah pantas punya pilihan sendiri atas hidupku. Aku marah dan menderita, namun hanya mampu memendamnya. Tapi sekarang semuanya berbeda. aku sudah dewasa, dan aku merasa bukan lagi anak kecil yang perlu diatur demikian rupa.

Puncaknya, ketika ayah tidak menyetujui keputusanku untuk kuliah di luar kota, aku sudah tak mampu membendung semuanya. Lahar panas yang tersimpan lama dalam dadaku, seketika membara, mengeluarkan sumpah serapah yang tak pernah aku katakan pada siapapun sebelumnya. Ayah tersentak. Matanya memerah. Namun sebelum ia sempat berkata-kata lagi aku segera berlari ke kamar, merapikan baju-bajuku untuk segera ke luar dari rumah yang terasa seperti neraka. Ayah mendatangiku dan mencoba membujukku.

"mau ke mana, nak?" suaranya datar, tak ada nada kemarahan.
"kamu tidak kasihan ibu jika kamu pergi jauh dari rumah ini?. Kamu boleh kuliah di jurusan apa saja nak, tapi ayah mohon tetaplah ada di rumah, temani ayah merawat ibumu!" tak seperti biasanya ayah memohon. Biasanya hanya ada perintah atau larangan.

Hatiku tertohok mentah-mentah. Aku lantas berdiri tepat di depan ayah.
"Dari dulu saya selalu menuruti kata ayah, harus begini, tidak boleh begitu! Apa belum cukup dinamakan berbakti? Sekarang hanya karena ibu, saya yang jadi korban? Kan ayah bisa menyewa pembantu untuk merawat ibu? Atau jika itu merepotkan ayah, kita bisa saja menitipkan ibu ke panti jompo? Beres kan?"
Plakkk. Satu tamparan keras mendarat di pipiku. Sakit luar biasa.

Ayah sangat marah dan tidak pernah menyangka aku akan mengatakan kata-kata pedas itu. Aku sendiri tak tahu kenapa aku begitu nekat. Mungkin karena aku sudah muak dengan semuanya. Aku sudah tak tahan. Aku tinggalkan ayah yang masih menyimpan seribu kemarahan dan kekecewaan. Aku keluar dari rumah tanpa tahu keberadaan ibu saat itu. Mungkin aku sudah menjadi anak yang durhaka. Tapi aku tak peduli. Aku merasa pantas melakukan itu. Terlalu lama aku menahan sesak di dada. Aku ingin membayar semua kebahagiaan yang terenggut dengan caraku sendiri.

Malam larut, mataku terpejam, tapi pikiranku mengawang ke masa dulu, saat ayah mendidikku bagaimana menjadi lelaki.
"ayo nak, bangun! Kamu harus kuat, harus bisa!". Begitu ayah menyemangati, kalau aku sudah berputus asa mengejar bola, belajar naik sepeda, atau jika sudah kewalahan mengerjakan peer di sekolah. Sesekali ayah membentak jika aku menangis.
"lelaki gak boleh cengeng. Jangan menangis!!!!".
Jika ayah sudah bersuara keras begitu, aku hanya mampu tersentak. Setiap subuh ayah membangunkanku. Kalau aku malas-malasan ia tidak segan-segan menarik tanganku dengan kasar sampai aku terbangun. Pernah juga suatu ketika ia memarahiku habis-habisan karena ketahuan membonceng fatma anaknya pak haji Abdullah sepulang sekolah. Dia bilang seorang lelaki tak layak berduaan dengan perempuan.

Aku mengagumi ayah ketika itu. Bagiku ia sosok disiplin yang bersahaja, berbeda dengan ibu yang lebih lunak dan tak pernah marah. Ibu lebih banyak membelaku dan seringkali memuji setiap kali ku berhasil melakukan sesuatu. Tapi itu dulu, sebelum aku merasa dewasa dan mengenal duniaku. Sekarang aku mulai merasa ingin lebih. Aku merasa ingin merubah hidupku. Aku merasa tak perlu lagi dicampuri urusanku. Aku ingin bebas seperti yang lain. Semakin lama aku semakin tidak suka dengan cara ayah mendekteku. Kenapa aku tidak boleh menentukan hidupku sendiri?, berpura-pura penurut di depan ayah, berpura-pura lugu. Kupikir ayah bukan mendidikku sebagai lelaki, tapi sebaliknya. Aku punya otak pintar, punya tampang dan uang. Kenapa aku tak boleh menikmati itu semua dengan caraku sendiri???"

Teriakan emosiku waktu itu membuatku terduduk lemas. Keringat dingin mengucur deras. Tanpa sadar aku meraih hape ku, menghubungi Aldy teman SMA dulu. Sejam kemudian aku meninggalkan losmen dengan Aldy, pergi ke suatu tempat. Kuingin pergi jauh dari kemelut. Terbang hingga tak mampu merasakan kepedihan lagi.
"bawa aku kemana saja, dy. Plis! Pikiranku sudah buntu."
"ke mana ? Aldy menanyaiku yang tak berdaya layaknya mayat hidup. Ia memboncengku sambil ngebut. Aku sudah tidak peduli. Yang penting aku bebas malam ini.
"terserah kamu aja dy!, ke tempat yang kamu tawarkan kemarin juga boleh". Aldy tak menggubris lagi, tapi aku tahu dia pasti tersenyum menang karena berhasil membawaku ke diskotik. Dari dulu dia selalu menyarankanku pergi ke sana, setiap kali ku mengeluh soal ayah, atau ibu yang lemah di pembaringan.
"nikmati hidup fren! Mumpung masih muda! Ngapain dipikirin hal begituan. Enjoy…fly!!!" aldy, teman yang mengaku sebagai teman baikku itu tak pernah berhenti membunjukku ikut dengannya ke klub2 malam. Biasanya aku selalu berhasil menolak. Namun kali ini aku pasrah. Aku mengaku kalah.

Jadilah malam itu aku menghabiskan waktu menikmati surga dunia. Sesuatu yang sebelumnya hanya pernah aku dengar kini benar-benar mampu membawaku terbang, ditemani sebotol wisky dan perempuan-perempuan erotis. Di sini aku aman tanpa seorangpun melarang. Di sini aku juga bisa mencumbui wanita-wanita cantik semau hati, tanpa harus sembunyi-sembunyi seperti dulu aku berpacaran dengan fatma tetanggaku itu. Aku tergelak meski kesedihan itu tak mau pergi. Aku tertawa meski dalam memoriku masih tertinggal kasih ayah ibu. Aku tenggelam dalam duniaku sendiri. Aku bangga dengan diriku sebagai lelaki bebas. Inilah aku yang disebut lelaki. Dan aku takkan menangis. Akan kubuktikan bahwa aku tidak butuh mereka. Aku bisa berdiri di atas kakiku sendiri. Aku lelaki…
*******
Aku tak tahu bahwa sosok ibu yang telah renta itu berdoa dalam salat malamnya. Memohon pada Allah agar hatiku dibukakan kembali. Matanya yang tlah rabun tak henti menangis. Memintakan ampun Tuhannya atas kekhilafanku, dan berharap aku segera kembali. Ia ingat aku kecil saat di pangkuan, ketika masih tinggal di desa bersama nenek. Apabila menjelang magrib, aku kecil paling senang pergi ke surau bersama teman-teman. Tak pernah lupa memakai peci hitam kesukaanku. Sesekali aku menemani bang Ujang memandikan kerbau. Aku kecil pandai membaca quran, selalu lebih dulu khatam dari teman-teman. Aku juga selalu jadi juara kelas. Aku kecil begitu sempurna di mata Ibu, baginya aku adalah permata hati yang sangat ia cintai, bahkan hingga kini aku pergi, ia tetap mencintai dan merindukan kepulanganku.

Mulut itu tak henti berkomat kamit dengan do'a. doa yang ia lantunkan di ruangan pengap serba putih. Ya, ia merasa seolah akan kehilangan dua orang yang dicintainya sekaligus. Ayah tiba-tiba terjatuh kena serangan jantung, tidak lama setelah aku pergi, dan kini terbaring lemah di rumah sakit. Dokter berani memastikan bahwa jiwanya sulit diselamatkan, kecuali takdir berkata lain. Tapi ibu benar-benar berhati baja, ia tak lelah meminta pertolongan Allah, agar masih diberi kesempatan untuk membahagiakan suaminya dan aku, anaknya. Doa itu tlah menancap kuat di dadanya.

******

Aroma bunga kamboja menusuk, daun-daunnya berjatuhan layaknya musim semi. Langkah-langkah kaki berlalu dengan hening. Isak tangis warnai pekuburan yang lenggang. Aku hanya bisa mematung sendiri, menyaksikan upacara pekuburan ayah dari kejauhan, dengan air mata bercucuran. Aku tak tahu apa aku masih pantas menampakan diri sebagai seorang anak, berdiri dan terisak di samping ibu. Aku bukan lelaki seperti yang ia harapkan, bahkan mungkin aku bukanlah manusia. Seseorang yang berhati batu sepertiku tak lagi layak disebut manusia. Tiba-tiba saja aku sangat merindukan sosok ayah yang tangguh dan tegar. Aku baru tahu ternyata dia menyimpan penyakitnya dari dulu, namun ia tidak pernah menunjukkannya padaku. Ia juga pernah mengatakan bahwa tidak ada yang lebih berharga selain melihatku dewasa. Oh, aku ini anak seperti apa? Sanggupkah aku memohon ampun pada ibu? Masihkah layak ku berada di sisinya kembali? Rasanya kuingin pergi saja, menebus dosa-dosaku dalam sepi.

Aku nyaris saja berlalu, jika saja tak kudengar suara ibu memanggilku. Matanya sudah tak mampu melihat dengan jelas. Tapi seorang ibu tak pernah salah mengenali anaknya. Nurani yang memberitahukannya keberadaanku.
" anakku, kemari nak!" oh, suara tulus itu seperti menggerogoti ulu hati. Entah angin apa yang membawaku langsung bersimpuh di kakinya. Ku lerai segala slogan kecongkakanku atas nama lelaki. Kuciumi tangannya dengan segenap rasa bersalahku. Dan aku tak peduli dunia mengataiku lelaki cengeng. Justeru aku bersyukur masih diberi kesempatan untuk berbakti pada seorang wanita yang bernama ibu, meski ku tak sempat meminta ampun pada ayah.

"Ibu!! Maaf…" hanya itu yang mampu keluar dari mulutku. Rantai penyesalan menyekik tenggorokan, membuatku tak mampu berkata apapun lagi. Ku tenggelam dalam buai kasih ibu. Ia hanya tersenyum penuh haru sambil mengelus rambutku manja, persis ketika ia menimangku waktu ku kecil dulu, atau membujukku yang merengek minta dibelikan mainan. Garis di wajahnya tidak menunjukan rasa marah, ia juga tidak menangis. Barangkali dia telah lelah menangis. Untukku dia selalu tegar.

Pagi tak bermentari. Ribuan malaikat seolah berdatangan mengitari tanah basah pekuburan. Ku dorong kursi roda ibu pergi meninggalkan kuburan ayah, meninggalkan seribu doa dan janji, bahwa aku takan pernah pergi lagi, menemani ibu sampai batas waktu yang ku ada. Aku ingin menjadi lelaki berbakti, berusaha lakukan yang terbaik dan menebus air mata yang selama ini tumpah dari mata ibu. Karena aku memang ada untuk berbakti. Karena aku terlahir dari rahim ibu yang suci. Aku lelaki…

Baca selengkapnya...

Ternyata Aku Bukan Tuhan

Ketika ada yang bertanya :
“ kenapa aku ingin menjadi seorang penulis?”
“ karna aku ingin menjadi tuhan”

Bagiku menulis bukan hanya harus mempunyai modal keinginan atau pengetahuan, tapi juga harus punya basic dalam berimajinasi. Aku ingin menjadi seorang penulis yang kritis, puitis, juga intelektualis.
Kenapa aku ingin menjadi tuhan? Karna aku ingin menggariskan taqdir buat tokoh-tokoh yang ada dalam ceritaku, aku ingin berbuat sekehendakku, aku ingin menamatkan riwayat peran utamanya dengan caraku sendiri, dengan tanganku, tepatnya dengan goresan penaku. Aku ingin semua kehidupannya sesuai dengan kehendakku, apa yang terfikir di otakku, aku ingin semua berjalan seperti yang aku inginkan.



“ sudahlah, tidak ada yang perlu di tangisi lagi” kata doraemon seraya mengagetkanku.
“ apa yang bisa ku lakukan sekarang?” tanyaku kembali padanya.

Pagi ini udara begitu dingin, padahal belum saatnya musim dingin. hingga selimut tebal yang sekian lama aku simpan baik2 dalam lemari mungilku ku bongkar, lalu ku hamparkan untuk menutup seluruh tubuhku dan hampir tidak ada yang tidak tertutupi kecali wajahku. Mataharipun begitu, iya juga tak mau kalah unjuk kebolehan, meski udaranya dingin, tapi iya tetap tersenyum menatap manusia yang membutuhkan cahayanya, tertawa riang menatap tumbuh2an yang selalu mengharap disinari sebagai perkembang biakannya. Begitu juga dengan riak-riak air sungai itu, selalu mengalir dan mengalir tanpa henti, seolah mengisyaratkan bahwa hidup kan terus mengalir apapun yang terjadi, hidup kan terus nyata meski kita sering membuatnya sebagai halusinasi semata, ia kan terus berjalan meski tangis dan tawa berganti.

Ku hirup udara dalam-dalam, dan tiba2 melihat jam dinding Mickey mouse yang tergantung di dinding kamarku, “ sudah jam 8:00 “ batinku. Aku bergegas kekamar mandi, aku ada kuliah pagi hari ini, jadi aku harus secepatnya ke kampus. “ aku harus lebih dahlu datang daripada dosen” begitu aku menyemangati diriku pagi itu.
Dan tepat pukul 8:30 aku sudah on the way ke kampus, jarak dari rumah ke kampusku tidak terlalu jauh, maksimal menghabiskan waktu kurang lebih 20 menit. Kemudian dari gerbang kampus ku singsingkan lengan bajuku, dan berkata pada dunia :

“ aku datang menjemput masa depanku…”

Aku berlari menerobos keramaian mahasiswi yang sedang asyik berbelanja di kantin kampus, aku tau mereka pasti tidak sempat sarapan dirumah. Satu hal yang membuat aku bangga menjadi mahasiswi di universitas ini bahwa “ aku sudah masuk dalam komunitas islami, menjadi mahasiswi yang tidak berfikiran kerdil, dikelas maupun di luar kelas selalu berbicara tentang pelajaran, selalu mementingkan ilmu diatas segala2nya”.
Aku tersenyum bangga, meski aku belom mampu sepenuhnya untuk menjadi seperti itu, tapi tekadku untuk menjadi mahasiswi yang bernotabene islami masih tersemat di jiwaku. Yah… aku akan menjadi sosok perempuan perkasa yang mengispirasi.

Setelah mengikuti 3 mata pelajaran hari ini, mataku terasa sangat lelah sekali, tak bisa ku pertahankan lagi meski sejenak saja. Dengan perasaan kantuk yang sangat aku terkapar diatas meja kelas yang kosong, aku sudah tidak bisa lagi mempertahankan rasa itu, tapi rasa itu begitu besar dan sangat meracuni otakku. Hingga pada akhirnya aku tertidur setengah jam-an. Ketika terbangun, aku mendapatkan diriku seolah menjadi tontonan topeng monyet gratis, teman-teman sekelasku mengelilingi bangkuku dan menatapku dengan tatapan yang sangat aneh dan penuh tanda Tanya. Instink ku pun tak mau kalah untuk bertanya “ kenapa mereka menatapku dengan tatapan seperti itu? Apa ada yang salah dengan diriku, dengan wajahku? Dengan badanku? Atau……” oh My God.. sesegera mungkin aku menyadarkan diriku lalu berusaha menghindar dari kerumunan banyak orang, seperti kerumunan orang yang sedang kecelakaan sepeda motor, yang kepala hancur dan badannya terpisah-pisah. Tapi ketika itu aku sadar, ternyata dengan buaian mimpi tadi aku bukan hanya Ngigau, tapi juga mengukir peta diatas kanvas meja kelas.
“Huhhhh…. Kebiasaan yang tak pernah hilang” teriakku membatin.

Setelah tragedi dalam kelas itu, aku punya kebiasaan baru sebelum masuk kelas, yaitu Minum kopi, agar sepanjang kelas nanti aku tidak akan memejamkan mataku barang sejenak. Sehingga otakku bener-bener terfokus pada satu titik, yaitu Keterangan Dosen.

Pulang dari kampus aku termangu di depan laptopku, satu demi satu foldernya aku buka, hingga akhirnya tanganku tergerak untuk membuka folder Foto. Satu demi satu foto aku buka, dan sedikit demi sedikit memoryku tentang dia kembali terungkit. Dia yang begitu dekat denganku, dia yang selalu mencipatakan senyuman dibibirku, dia yang selalu tidak bosan untuk menasehatiku, dia yang selalu sabar menghadapi sifat kekaanak-kanakanku, dia.. dia… dan dia… sunggh tak habis rasanya jika berbicara tentang dia. Semua apa yang sudah aku lalui bersama dia satu persatu menjadi kenangan. Satu persatu menjadi sejarah.

Sekarang… aku sudah kehilangan sosoknya, dalam batin aku hanya mampu mengucapkan :

“ wiil you please never forget it even when you already have a new…”

Seperti yang aku katakana di awal, apapun yang terjadi hidup kan terus berjalan, meskipun kita menangis darahpun tak akan ada yang bisa menghentikan semua ini, kecuali yang Kuasa yang telah membuat semua ini.

Satu persatu butiran bening itu kemabali menetes di pipiku, bukan menangisi dia yang sudah punya tambatan hati, tapi menangisi semua ini yang begitu cepat berlalu, menangisi hubungan yang tidak lagi harmonis, menangisi keadaan yang tidak lagi memungkinkan untuk aku selalu bersamanya, menangisi kepergianya yang begitu cepat. Sangat memilukan.

“mba fie nangis lagi?” Tanya adik kelasku yang kebetulan sekamar denganku.
“ nggak doraemon….” Jawabku sambil mencoba tersenyum padanya.

Aku memang seringkali memanggilnya dengan sebutan “doraemon” karna selain lucu dia juga imut, persis sekali dengan doraemon.

“ mba fie sudahlah, jangan terlalu di tangisi, semua sudah terjadi bukan berarti Semuanya sudah berakhir mba, segala kemungkinan bisa saja terjadi. Sekarang kita hanya mampu berdo’a, jika dia yang terbaik yang di sediakan Allah untuk kita, Insya’Allah akan di pertemukan dengan keadaan apapun. perjalanan kalian masih terlalu panjang, meski sudah waktunya untuk memikirkan hal itu, tapi mari kita dahulukan prioritas kita sebagai mahasiswa dulu. Ok ok ok ?? mba fie senyum dong….”

Aku kaget kenapa doraemon bisa sebijak itu menasehatiku, kata-kata yang terucap dari lidahnya begitu mudah dan mempunyai makna yang sangat dalam buatku. Dia memang sangat perhatian terhadapku, sudah ku anggap seperti adikku sendiri, tapi aku gak pernah terfikir dia seperhatian ini padaku. Sampai hafal gerak gerikku tatkala kena musibah, dia ngerti banget tatapan mataku ketika gundah menghampiriku.

“liat saja, dia akan kembali kepangkanku, dia akan kembali seperti orang yang pertama kali aku kenal, dia akan selalu menemaniku dalam hari2ku, dia juga akan mengisi diary kehidupanku. Dia akan terus menjagaku apapun yang terjadi. Kau tau kenapa? Karna aku tau senyuman itu sama seperti dulu, gak akan pernah berubah. Dia adalah pujaan hatiku yang terus menemani aku kemanapun aku pergi. Kau tau kenapa? karna tatapan mata itu selalu memberiku arti pengorbanan. “
Aku terus berkata tanpa jeda, mengurai kata tentang dia, orang yang selalu aku sayangi, orang yang selalu memberiku harapan tak berkoma.

“ mbak… sudalah… kenyataannya kalian sudah mempunyai jalan masing-masing. Semuanya tidak seperti yang kita inginkan, mba bukanlah seorang tuhan yang bisa mengatur segalanya, tapi kita tidak lebih hanyalah seorang hamba yang hanya akan menerima apa adanya.” Kata doraemon seolah menyadarkan aku dari ketidakwarasanku berfikir tentang dia.

By: annisa el-karomi

Baca selengkapnya...

  © Blogger template 'Ladybird' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP