"Hadirilah Sidang Disertasi Doktoral Bapak Tuan Guru Bajang TGKH. M. Zainul Majdi, M.A, nanti hari Sabtu, 8 Januari 2011 M, pukul: 10:00 Waktu Kairo, di Aula Syeikh Abdul Halim Mahmud Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar Kairo " " Pokoknya NW, Pokok NW Iman & Taqwa " " Inna Akromakun Indi Anfa'ukum Linahdlatil Wathan Wainna Syarrokum Indi Adhorrukum Binahdlatil Wathan " " Dewan Tanfidziyah Perwakilan Khusus Nahdlatul Wathan Mesir Periode VI Masa Bakti 2010-2011 "
Showing posts with label Kajian Islam. Show all posts
Showing posts with label Kajian Islam. Show all posts

Sunday, December 6, 2009

Membangun Dua Pilar Ummat

"Kamu adalah sebaik-baik umat yang yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kebaikan, mencegah kemunkaran dan beriman kepada Allah SWT".

Pilar utama: kekuatan individu (wa tu'minuna billah)

Salah satu pilar penting yang membangun umat adalah kekuatan individu dengan landasan iman yang kuat, hati dan spiritual yang selalu yaqzhah (terjaga/mawas diri). Dengannya seorang muslim akan mampu menyelaraskan kehidupannya antara dunia dan akhirat, perkataan dan perbuatan. Hati yang hidup bertindak sebagai pengawas yang selalu memonitori setiap tingkah laku, bahkan menjangkau hal-hal yang tak mampu ditangani oleh peraturan umum yang berlaku di sekelilingnya sekalipun.



Sikap seperti inilah yang disebut dengan ma'rifatullah, yaitu iman mutlak atas pengawasan Allah. Barang siapa yang peka dengan pengawasanNya, maka ia juga akan lebih baik dalam mawas diri. Jika demikian berarti ia telah mencapai martabat Ihsan: kamu menyembah Allah seolah-olah kamu melihatNya. Jika kamu tidak melihatNya maka sesungguhnya Ia melihatmu.

Jika seorang muslim telah berada dalam maqam ini, maka ia akan menjadi pribadi yang kuat, apapun perannya dalam kehidupan; sebagai orang tua, anak suami, isteri, remaja dan sebagainya. Ia pun akan mampu mengendalikan dirinya dengan baik ketika ditimpa berbagai macam cobaan dan kesulitan.

Pilar kedua: opini publik yang Islami (ta'muruna bil ma'ruf wa tanhauna 'an al-munkar)

Tidak cukup disebut umat yang ideal jika kekuatan individu tersebut tidak ditopang dengan opini publik yang sehat. Karena bagaimanapun manusia adalah makhluk sosial yang saling berinteraksi satu sama lain. Maka kerjasama yang solid atas kebaikan mutlak diperlukan. Harus jelas batasan-batasan/standar baik dan buruk, bukan justeru sebaliknya: yang halal diremehkan, yang haram malah dianggap hal yang lumrah bahkan membanggakan. Saking urgennya perkara amar ma'ruf nahi munkar ini, Rasulullah pernah menyinggungnya dalam hadist bahwa salah satu pemicu kerusakan umat adalah jika mereka telah melalaikan amar ma'ruf nahi munkar. Maka Rasulullah melarang umatnya dari sifat egois (imma'ah). Kita dianjurkan berbuat baik kepada orang yang baik, namun tidak membalas kejahatan orang yang berbuat jahat, melainkan memberinya arahan dan nasehat. Kita juga dapat mengambil hikmah dari kisah seorang ahli ibadah yang hendak dilemparkan gunung ke arahnya lantaran dia rajin beribadah namun tidak memperdulikan sesama muslim di sekelilingnya. Ini menunjukan pentingnya amar ma'ruf nahi munkar.

Maka kedua pilar ini harus diselaraskan untuk melahirkan umat yang ideal. Berapa banyak orang yang imannya kuat, namun dengan mudah goyah oleh opini publik yang tidak sehat. Tidak sedikit juga orang yang awalnya tidak memiliki akhlak yang terpuji, namun dapat dengan mudah membangkitkan imannya dengan bantuan lingkungan yang baik.

Saat ini dunia mulai terbalik. Hawa nafsu dan kebodohan manusia lah yang telah membalikkan fakta, menyamarkan perkara halal dan haram bahkan mencampuradukkannya. Padahal antara keduanya itu bayyin (jelas). Opini publik telah tercacati oleh segala macam penyimpangan-penyimpangan agama. Maka bukanlah perkara mudah mempertahankan kekuatan individu yang dimiliki. Orang yang baik di tengah-tengah masyarakat yang buruk bagaikan permata yang berkilau, akan selalu dicari. Atau bahkan bisa dianggap hal yang aneh dan langka. Begitu pula orang yang buruk di tengah-tengah lingkungan yang baik, nurani kecilnya akan merasa bersalah dan ciut. Dengan petunjuk Allah barangkali dia akan selalu merasa resah dan bersalah dengan keadaan itu, lantas lambat laun akan merubah dirinya ke arah perbaikan. Namun sebaliknya, jika ia lari kepada dirinya sendiri (hawa nafsu), justeru ia akan dapat mencemari opini publik yang sehat tersebut dengan keburukan akhlaknya.

Persoalannya sekarang adalah bagaimana dua pilar kepribadian tersebut dapat terbangun pada sosok seorang muslim? Sedangkan realita yang berbicara selama ini menegaskan bahwa betapa banyak seorang anak terlahir tanpa pendidikan Islam yang baik dari kedua orang tuanya? Degradasi moral yang melanda umat manusia saat ini juga turut berperan serta dalam meluluhlantakkan cita-cita agama dan bangsa untuk melahirkan generasi unggul imtaq dan ipteknya. Para pendidik tidak lagi memperhatikan aspek-aspek moralitas dalam pengajarannya. Para ulama dan kaum intelektualitas hanya sibuk memperdebatkan siapa yang benar mana yang salah. Belum lagi serangan musuh-musuh Islam dari luar yang menyusup ke dalam tubuh umat, mengadu domba, memecah persatuan dan mempromosikan tema-tema liberalisasi di bawah topeng demokrasi, toleransi, persamaan dan lainnya. Kedua pilar umat yang seyogyanya terbangun justeru diruntuhkan oleh kebodohan umat Islam sendiri.

Ya, jika masing-masing individu tidak segera bertindak maka idealisme tersebut akan tertindas oleh kelengahan kita sendiri Idealisme tersebut hanya akan menjadi teori tanpa bukti, sementara setiap kita bertugas untuk menjunjung tinggi keizzahan Islam. Maka sebagai langkah awal membangun kembali dua pilar umat tersebut adalah melihat kembali peran masing-masing kita, mempelajari dan memahami dengan benar untuk kemudian diamalkan. Jika anda seorang remaja, mulailah berpikir ke depan, evaluasi berbagai aspek yang diperlukan untuk memperkokoh pemahaman agama dan kepribadian ideal, menyadari bahwa anda lah asset umat yang kelak juga akan menjadi orang tua yang mendidik anak-anaknya. Jika proses pemurnian akhlak tersebut tidak dimulai dari anda, bagaimana kelak dapat melahirkan generasi yang baik? Jika anda seorang suami dan kepala keluarga, sudahkan memahami dengan benar tugas berat tersebut, dimana anda lah yang kelak dimintai pertanggungjawaban atas baik buruknya keluarga anda? Jika anda seorang ibu rumah tangga, sudahkan anda siap menjadi figure teladan bagi anak-anak anda? Menciptakan suasana rumah penuh keharmonisan, sikap-sikap islami dan saling menghargai? Ya, setiap pelakon hendaknya menanyakan kembali peran masing-masing sebagai bahan evaluasi dan introspeksi diri untuk kemudian sama-sama bangun dan menyadari bahwa persoalan umat ada di diri kita masing-masing, bukan dimana-dimana. Memang, persoalan umat sebenarnya lebih rumit dari yang kita bayangkan. Namun paling tidak hal itu dapat diminimalisir dari sini, dari setiap diri kita, sehingga perlahan-lahan kedua pilar umat (kekuatan individu dan opini public yang Islami) tersebut dapat terbangun kembali.
Wallahu a’lam.

* Amie el-banzary

Baca selengkapnya...

Saturday, November 28, 2009

Sejarah pertumbuhan dan perkembangan Tafsir Al-Qur’an di Dunia Islam

Pada masa hidup Rasulullah,saw. Kebutuhan tentang tafsir Alqur’an belumlah begitu di rasakan. sebab apabila para sahabat tidak atau kurang memahami sesuatu ayat Al qur’an, mereka dapat langsung menanyakannya kepada Rasulullah, saw. Dalam hal ini rasulullah selalu memberikan jawaban yang memuaskan. Setelah rasulullah s.a.w wafat, apalagi setelah islam menebar sayapnya ke luar jazirah Arab, dan memasuki daerah-daerah yang berkebudayaan lama, terjadilah persinggungan antara kebudayaan baru islam yang masih dalam bentuk kesederhanaan-nya degan kebudayaan lama yang sudah sangant berpengalaman, perkembangan daya keuletan juang di pihak lain, Di samping itu kaum muslimin sendiri menghadapi persoalan-persoalan baru, terutama dalam bidang kepemerintahan dan pemulihan kekuasaan berhubung dengan meluasnya daerah islam itu. Pergeseran, persinggungan dan keperkuan ini menimbulkan persoalan baru. Persoalan baru itu akan dapat di pecahkan apabila ayat Alqur’an di tafsirkan dan diberi komentar untuk menjawab persoalan-persoalan yang baru itu. Maka tampillah kemuka babarapa orang Sahabat dan Tabi’ien memberanikan diri menafsirkan ayat Alqur’an yang masih bersifat umum dan golobal itu, sesuai dengan batas-batas lapangan berijtihad bagi kaum muslimin.


Demikianlah, setiap generasi akan mewarisi kebudayaan generasi-generasi sebelumnya; kebutuhan suatu generasi berlainan dan hampir tidak sama dengan kebutuhan generasi lain. Begitu pula perbedaan tempat dan keadaan, tidak dapat di katakan sama keperluan dan kebutuhannya, sehingga timbullah penyelidikan dan pengolahan dari apa yang telah di dapat dan di lakukan oleh generasi-generasi sebelumnya, serta saling tukar-menukar pengalaman yang di alami oleh manusia pada suatu daerah dengan daerah yang lain; mana yang masih sesuai di pakai, mana yag kurang sesuai dilengkapi dan man yang tidak seuai lagi di kesampingkan, sampai nanti keadan dan masa membutuhkan pula.
begitu pula halnya dengan Alqur’an ; ia berkembang mengikiti irama perkembangan zaman dan memenuhi kebutuhan manusia dalam suatu generasi. Tiap-tiap generasi melahirkan tafsir –tafsir Alqur’an yang sesuai dengan kebutuhannya masing-masing dengan tidak menyimpang dari ketentuan-ketentuan agama islam sendiri. Dalam pada itu ilmu tafsir yang dahulu merupakan bahagian dari ilmu hadis telah berkembang sama dengan ilmu-ilmu yang lain, maka didalam ilmu tafsir terdapat pula aliran-aliran dan perbedaan pendapat yang timbul karena perbedaan pandangan dan segi peninjauannya, sehingga sampai saat ini terdapat puluhan, bahkan ratusan kitah-kitab tafsir dari berbagai aliran, sebagai hasil dari karya-karya generasi sebelumnya. Dalam menguraiakan perkembangan kitab-kitab tafsir dan ilmu tafsir dapat di bagi dalam tiga periode; yaitu periode mutaqoddimin, mutakhkhirin dan periode baru.
1) Periode mutaqoddimin
Penyebab umum timbulnya penafsiran periode ini
Al-qur’an kariem di turunkan dalam bahsa arab, karena itu pada umumnya orang-orang arab dapat mengerti dan memahaminya dengan mudah. Bahkan para sahabat adalah orang-orang yang paling mengerti dan memahami ayat-ayat Al-qur’an. akan tetapi para sahabat itu sendiri mempunyai tingkatan yang berbeda-beda dalam memahami Alqur’an. Hal ini terutama di sebabkan oleh perbedaan tingkatan kemampuan dan kcerdasan para shabat itu sendiri.
Sumber-sumber penafsiran periode ini
Pada masa ini penafsiran Alqur’an bersumber pada:
1. Perkataan, perbuatan, taqrir dan jawaba-jawaban dari Rasulullah saw. Atas soal-soal yang di kemukakan oleh para sahabat karena ketidak tahuan mereka ataupun karena pertanyaan dari ahli kitab yang ingin membuktikan kebenaran risalah Nabi Muhammad saw.
2. Ijtihad. Di antara para sahat dan tabi’ien dalam menafsirkan Alqur’an , di samping menggunakan hadis-hadis juga mereka menggunakan ijtihad mereka masing-masing. hal ini mereka lakukan karena mereka mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan bahasa arab, asbabunnuzul, adat-istiadat jahiliyyah dan sebagainya.
3. Cerita-cerita israiliyyat. Ialah cerita yang berasal dari orang-orang ahli kitab . kaum muslimin banyak menerima cerita dari israiliyyat ini. sebab Rasulullah sendiri pernah bersabda yang maknanya: “bila di kisahkan kepada kamu tentang ahli kitab maka jangan di benarkan dan jangan pula di anggap dusta” maksudnya adalah supaya kaum muslimin menelitinya terlebih dahulu tentang kebenarannya.
Ahli tafsir pada periode ini
Pada zaman sahabat terkenal beberapa mufassir diantaranya adalah para khalifah sendiri yaitu Abu bakar, umar bin khattab, utsman bi affan dan Ali bin abi thalib (radiyallahu anhum). sahabat yang paling banyak mengambil riwayat daripadanya ialah; Ali bin abi thalib, Abdullah bin abbas, Abdullah binmasud dan Ubay bin ka’ab.
Para tabiien yang banyak meriwayatkan dari ibnu Abbas adalah Mujahid, Atha’ bin rabah (27-114), ‘Ikrimah (25-105), dan Sa’id bin jubair (45-94 h). Semuanya adalah murid-murid Ibnu abbas sendiri. Tentang murid-murid Ibnu abbas yang empat orang ini telah berbeda penilaian di kalanganulamak, Mujahid adalah yang mendapat kepercayaan dari Ahlul hadis yaitu; Imam Syafi’ie, Bukhari, Muslim dan imam lainnya banyak mengambil riwayat darinya. Di samping itu banyak pula yang mengeritik karena sering berhubungan dengan ahli kitab namun keritikan-keritikan itu tidak mengurangi nilai beliau, demikian pula halny dengan Atha’ bin rabah dan said bin Jubauir. Adapu ikrimah banyak orang yang mengambil riwayat dari beliau, berasal dari bar-bar di afrika utara, serta bekas budak ibnu Abbas. Namun setelah di merdekakan dia langsung berguru pada beliau.
Dia antar tabiien yang banyak mengambil riwayat dari Abdullah bin masud ialah Masruq bin Ajda’ keturunan Arab dari bani hamdan, berdiam di kufah. Kemudian Qatadah bin diamah seorang arab yang berdiam di basrah.
Pada periode ini belumlah di dapati kitab-kitab tafsir, kecuali kitab-kitab tafsir yang di tulis oleh orang-orang terakhir di antara mereka yaitu orang mendapati masa Tabiittabiien. Setelah datang angkatan tabi’ittabi’ien barulah di tulis buku-buku tafsir yang melengkapi semua surat-surat Al-qur’an. Buku tafsir yang mereka tulis itu mengndung perkatan-perkataan para sahabat, tabi’ien dan tabi’ittabi’ien. Dan diantara tabi’ittabi’ien yang menulis tafsir itu ialah: Sufyan bin uyaynah, yazidbin harun, Al kalby, muhammad ishak, Al waqidy dan lainnya.
Penulis tafsir yang terkenal pada periode itu adalah Alwaqidy (207 H), sesudah itu baru Ibnu jarir Attabari (310 H). Tafsir Ibnu jarir adalah tafsir Mutaqaddimin yang paling besar dan sampai ketangan genersi sekarang.
2) Periode mutaakhirin
Setelah Agama islam meluaskan sayapnya ke daerah-daerah yang berkebudayaan lama, seperti persia, asia tengah, india, syiria, turki, mesir, etopia dan afrika utara. Terjadilah persinggungan danpergeseran antara kebudayaan islam dengan kebudayaan lama yang sudah di olah, berkembang serta mempunyai kekuatan dan keuletan.
Maka sejak waktu itu mulailah kaum muslimin mempelajari pengetahuan-pengetahuan yang di anut oleh kebudayaan tersebut. Karena itu kaum muslimin mempelajari ilmu logika, filsafat, eksakta, hukum, kedokteran dan sebagainya. Sehingga dalam beberapa waktu saja telah dapat di miliki dan di bukukan ilmi-ilmu gaya bahasa, ilmu kindahan bahasa, dan segala yang berhubungan dengan ilmu bahasa.
Perubahan ini menimbulkan pula perubahan dalam penyusunan dan pemikiran kitab-kitab tefsir. Ahli tafsir tidak hanya mengutip dari para sahabat, Tabiien dan Tabiittabiien saja, tetapi mulai menyelidiki, meneliti danmembandingkan apa-apa yang telah oarang terdahulu dari mereka. Tidak hanya sampai demikian saja, bahkan para mufassir mulai menafsirkan dari segi gaya bahasa, keindahan bahasa, tata bahasa, di samping pengolah tafsir-tafsir Alqur’an dengan ilmu yang mereka miliki. Karena itu terdapatlah kitab-kitab tefsir yang di karang dan di tinjau dari berbagai segi yaitu:
1. Golongan yang meninjau dan menafsirkan Alqur’an dari segi gaya bahasa dan keindahan bahasa. Yang menyusun seperti ini adalah seperti Azzamakhsyary dalam tafsirnya “ Al kasysyaf”. dan kemudian Al baydhowy dalam tafsirnya ” Anwaruttanzil fi attakwil”
2. Golongan yang meninjau dan menafsirkan Alqur’an dari segi tata bahasa, kadang-kadang mereka menggunakan syair-syair arab ntuk mengokohkan pendapat mereka . seperti Azzajad dalam Tafsirnya “Maanil qur’an”, Alwahidy dalam tafsirnya “Al bashit”, Abu hayyan dalam tafsirnya “Albahrul muhit”.
3. Golongan yang menitik beratkan pembahasan mereka dari segi kisah-kisah dan cerita terdahulu seperti Atssta’laby, Alauddin al bagdady. Dan tafsir Al khazin juga tergolong aliran ini.
4. Golongan yang mengutamakan penafsiran ayat-ayat yang berhubungan dengan hukum, menetapakan hukum-hukum fiqih. Penafsiran seperti ini adalah seperti Alqurtuby dalam tafsirnya “Ahkamul qur’an”, Al jashas dalam tafsirnya “Ahkamul qur’an, Hasan siddiq khan dalam tafsirnya “ nailul maram”.
5. Goongan yang menitik beratkan pada tafsirnya dengansifat-sifat Allah. Ayat-ayat yang seakan-akan berlawanan dengan sifat ketuhanan, lalu dengan panafsiran itu teranglah bahwa ayat itu tidaklah bertentangan dengan sifat-sifat ketuhanan yang sesungguhnya. aliran ini yang terkenal seperti Fakhruddin arrazi dalam tafsirnya “Mafatihul ghaib”.
6. Golongan yang menitik beratkan penafsirannya pada isyarat-isyarat Alqur’an yang berhubungan dengan ilmu suluk dan thasawwuf, seperti tafsir Attsaury.
7. Golongan yang hanya memperkatakan lafaz Akqur’an yang gharib (jarang di pakai dalam keseharian) seperti “ mu’jam Algaribil qur’an”, nukilan Muhammad fuad abdul baqy dari sohih bukhary.
Di samping itu kita juga mendapatkan kitab-kitab tafsir yang beragam sesuai dengan aliran aqidah misalnya tafsir golongan mu’tazilah dan syi’ah.dan lainnya.
3) Tafsir pada periode baru
Periode ini boleh di katakan di mulai sejak akhir abad ke 19 sampai saat ini. Penganut agama islam setelah sekian lama ditindas dan di jajah bangsa barat telah mualai bangkit kembali. di mana ummat islam telah merasa agama mereka di hinakan dan menjadi alat permainan, serta kebudayaan mereka telah di rusak dan di nodai.
Maka terkenallah modernisasi Ialam yang di lakukan di Mesir oleh tokoh-tokoh islam jamaluddin Alafghani dan murid beliau syaikh Muhammad abduh. Di pakistan dan india di pelopori oleh sayyid ahmad khan. modernisasi ini bukan di mesir dan pakistan saja tapi menjalar juga ke indonesia yang di pelopori oleh H.O.S cokro aminoto dengan syarikan islamnya kemudian K.H.Ahmad dahlan dengan gerakan Muhammadiyyahnya dan K.H. Hasyim asyari dengan N.U-nya serta tidak ketinggalan pula K.K M.Zainuddin abdul majid dengan organisasi NW-nya.
Bentuk modernisasi pada masa ini adalah menggali kembali Api yang telah hampir padam, membela agam islam dari serangan barat, kaum muslimin mempelajari pengetahuan dan kemajuan-kemajuan, bahkan tradisi barat yang di pakai barat untuk di jadikan alat penangkis serangan-serangan itu.
Begitu pulalah kitab tafsir yang di karang periode ini, mengikuti garis perjuangan dan jalan pikiran kaum muslimin pada waktu itu, seperti halnya : tafsir “Almanar” yang di tulis oleh rasyid ridha, tafsir “mahasinutta’wil” oleh syeh jamaluddin Alqosimi, tafsir “Ajawahir” oleh thabtowi jauhari dan lainnya yang tidak seidkit jumlahnya.

Tafsir Alqur’an di indonesia
Usaha penafsiran Alqur’an dalam bahsa indonesia telah di lakukan oleh para ulamak islam indonesia. Sampai sekarang telah ada beberapa kiatab Alqur’an selangkapnya yang sudah di terbitkan.
Dalam PELITA 1 (1969) penafsiran Alqur’an adalah termasuk salah satu proyek yang di utamakan, sebagaimana halnya penterjemahan Alqur’an yang di laksanakan oleh Departemen Agama RI. Untuk pelaksaaannya maka di bentuklah dewan penyelenggeara tafsir Alqur’an (SK menteri Agama no. 90 tahun 1972). dewan ini telah menyelesaikan tugasnya dan akhirnya “Al qur’an dan tafsirnya” dapat di terbitkan (dalm 10 jilid dan 1 jilid muqoddimah).
Demikianlah...!!! wallahu a”lam bisshowab.... walhamdulillah



Oleh: eM_Ka alfaridi
Mahasiswa Univ. Al Azhar.
jurusan Tafsir dan ilmu-ilmu Alqur’an

Baca selengkapnya...

Tasawwuf Merupakan Satu Diantara Tiga Pilar Agama Islam

TASAWWUF MERUPAKAN SATU DIANTARA TIGA PILAR AGAMA ISLAM

A. Pendahuluan
Tasauf merupakan bagian integral dari ajaran spiritual Islam yang bersumber dari al-qur’an dan al-Sunnah, lahir bersamaan dengan lahirnya agama Islam itu sendiri serta tampak pada prilaku hidup baginda Rosulullah saw. Namun tasauf berdiri sendiri sebagai sebuah disiplin ilmu baru muncul pada abad kedua atau ketiga Hijriyah. Sebelumnya, istilah tasauf belum dikenal dikalangan masyarakat islam akan tetapi bukan berarti ajaran tasauf belum ada pada permulaan Islam, ia sudah ada tetapi tidak secara eksplisit sebagaimana layaknya sebuah disiplin ilmu lain. Bahkan jika kita merujuk lebih jauh kebelakang tidak hanya tasauf yang tidak dikenal pada periode awal Islam, disiplin ilmu yang lainpun seperti fiqih, tauhid, tafsir, ilmu hadists juga belum dikenal pada masa itu. Tetapi berbaur dengan prilaku hidup beliau dan para sahabat.


Melalui tulisan yang singkat ini penulis ingin mengingatkan kembali kepada umat islam bahwa ajaran tasauf bukanlah suatu ajaran yang menyimpang dari Islam bahkan ia merupan salah satu pilar pokok agama islam itu sendiri yang di kenal sebagai maqom al ihsan sebagai mana yang di di kutip hadis yang di kenal dengan hadis jibril .Imam al-Ghazali dalam kitab Minhajul ‘Abidin, menjelaskan ada tiga macam ilmu yang wajib dipelajari oleh setiap muslim, yaitu ilmu fiqih, ilmu tauhid dan ilmu tasauf/ilmu akhlaq. Dengan demikian dapat dipahami bahwa ajaran tasauf bukanlah milik kelompok tertentu saja, tapi ia harus dimiliki oleh setiap orang kapan dan dimanapun dia berada.minimal ajaran tasauf yang bersifat sederhana seperti sabar, syukur, tawakkal dan sebagainya. Karena tasauf mengajarkan nilai-nilai spiritual yang membawa kepada kesejukan, ketentraman dan kedamaian bagi jiwa manusia.
Tasauf merupakan ajaran keruhaniaan yang menekankan kepada kesuciaan jiwa, hati (qalbu) dengan konsep takhally(pembersian jiwa), tahally(menghiasi jiwa) dan tajally(terungkapnya rahasia ilahiyah) melalui riyadhah(latihan) yang dilakukan secara kontinyu, baik melalui dzikr, kontemplasi dan amal-amal shaleh lainnya menuju insan kamil (manusia paripurna).yaitu manusia yang berakhlak mulia.
B. Pengertian Tasauf
secara etimologi (bahasa) pengertian tasauf dapat dibagi menjadi beberapa pengertian, seperti dibawah ini:
1. Tasauf berasal dari istilah yang dikonotasikan dengan “ahlu suffah” yang berarti sekolompok sahabat Rasulullah yang hidupnya banyak berdiam di serambi masjid nabawi, dan mereka mengabdikan hidupnya untuk beribadah kepada Allah.
2. Tasauf berasal dari kata shaf (baris); yang maksudnya adalah barisan pertama shalat di mesjid. Shaf pertama selalu ditempati para Sufi dalam shalat berjamaah.
3. Tasauf dikatakan berasal dari kata “shafa”, yang artinya kesucian, yakni kesucian jiwa sang Sufi setelah mengadakan “penyucian” jiwa dari kotoran-kotoran atau ketergantungan pada selain Allah swt..
4. Tasauf berasal dari kata shaufana, yaitu sebangsa buaha-buahan kecil berbulu-bulu yang banyak sekali tumbuh di padang pasir di tanah Arab, di mana pakaian kaum Sufi itu berbulu-bulu seperti buah itu pula, dalam kesederhanaannya.
Pengertian tasauf secara terminologi (istilah) para ulama juga mendefenisikannya beragam. Menurut Syekh al- Islam Zakaria al-Ansari:
“Tasauf mengajarkan cara untuk mensucikan diri, meningkatkan moral dan membangun kehidupan jasmani dan rohani guna mencapai kebeningan hati . Unsur utama tasauf adalah penyucian jiwa, dan tujuan akhirnya adalah tercapainya kebahagian dan keselamatan abadi”.
Ketika Muhammad al-Jurayri ditanya tentang tasauf, beliau menjelaskan, “Tasauf berarti menyandang setiap akhlak yang mulia dan meninggalkan setiap akhlak yang tercela”.
Ma’ruf al-Karkhi, tasauf adalah mengambil hakikat dan meninggalkan yang ada ditangan makhluk.
Guru kami yang mulia Maulana as-syeikh yusuf al-hasani ra berkata bahwa tasawwuf adalah al-muwafaqoh li irodatillah(kepatuhan dan ketundukan secara total pada keinginan Allah swt)
Dari beberapa pengertian di atas dapat dipahami bahwa tasauf adalah suatu ajaran yang selalu berupaya membawa orang-ornag yang menyelaminya berada dalam kesucian jasmani dan ruhani lahir dan batin, ta’at kepada Allah dan Rasulnya, selalu berusaha menghiasi diri dengan segala sifat-sifat mahmudah (terpuji) dan meningglakn segala sifat-sifat mazmumah (tercela) dalam upaya meningkatkan ketakwaan kepada Allah swt. melalui takhalli, tahalli dan tajally. Manusia pada fitrahnya memiliki dasar kesucian, yang kemudian harus dinyatakan dalam sikap-sikap yang suci dan baik kepada sesamanya. Sifat dasar kesucian itu disebut hanifiyah karena manusia adalah makhluk yang hanif.(suci) Sebagai makhluk yang hanif manusia memiliki dorongan naluri kearah kebaikan dan kebenaran atau kesucian. Pusat dorongan hanifiyah itu terdapat dalam dirinya yang paling dalam dan paling murni, yang disebut hati (qalbu).
Manusia memiliki potensi dasar untuk selalu ta’at kepada Allah, atau dengan kata lain manusia itu memiliki kecenderungan kepada kebenaran. Konsepsi Islam mengenai potensi dasar manusia berupa pengakuan akan adanya Allah sebagai Tuhan, atau cenderung kepada kebenaran secara eksplisit diungkapkan dalam al-qur’an “Dan ketika Tuhannmu mengeluarkan keturunan dasri putra-putra Adam, dari sulbi mereka, dan membuat persaksian atas diri mereka snediri; ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab, benar, kami bersaksi.” (QS. Al-A’raf: 7/12). Orang-orang yang ber-tasauf (Sufi) hatinya selalu mengingat Allah dalam segala gerak langkah dan tindakannya, Allah selalu hadir dalam setiap denyut nadi dan detak jantungnya bahkan setiap tarikan nafasnya dalam rangka upaya penyucian jiwa sebagai ungkapan ubudiyahnya kepada Allah dan mempersiapkan diri untuk mencapai kehidupan yang abadi.
C. Sejarah Singkat Tasauf
Istilah Sufi baru muncul kepermukaan pada abad kedua Hijriyah, sebelum itu Kaum muslimin dalam kurun awal Islam sampai abad pertama Hijriyah belum mengenal istilah tersebut.Namun bentuk amaliah para Sufi itu tentu sudah ada sejak dari awal kelahiran Islam itu di bawa oleh Rasulullah Muhammad saw, bahkan sejak manusia diciptakan.
Sejarah historis ajaran tasauf mengalami perkembangan yang sangan pesat, berawal dari upaya meniru pola kehidupan Rasulullah saw. baik sebelum menjadi Nabi dan terutama setelah beliau bertugas menjadi Nabi dan Rasul, perilaku dan kepribadian Nabi Muhammad saw lah yang dijadikan tauladan utama bagi para sahabat yang kemudian berkembang menjadi doktrin yang bersifat konseptual. Tasauf pada masa Raulullah saw. adalah sifat umum yang terdapat pada hampir seluruh sahabat-sahabat Nabi tanpa terkecuali. Menurut catatan sejarah dari sahabat Nabi saw yang pertama sekali melembagakan tasauf dengan cara mendirikan madrasah tasauf adalah Huzaifah bin Al-Yamani, sedangkan Imam Sufi yang pertama dalam sejarah Islam adalah Hasan Al-Basri (21-110 H) seorang ulama tabi’in, murid pertama dari Huzaifah Al-Yamani beliau dianggap tokoh sentral dan yang paling pertama meletakkan dasar metodologi ilmu tasauf. Hasan Al-Basri adalah orang yang pertama memparaktekkan, berbicara menguraikan maksud tasauf sebagai pembuka jalan generasi berikutnya.
Tasauf sebagai sebuah disiplin keilmuan Islam, baru muncul pada abad ke II H/XIII M, atau paling tidak dalam bentuk yang lebih jelas pada abad ke III H/X M. Namun, sebagai pengalaman spiritual , tasauf telah ada sejak adanya manusia, Usianya setua manusia. Semua nabi dan Rasul adalah Sufi, yang tidak lain adalah manusia sempurna (insan kamil). Nambi Muhammad adalah Sufi terbesar karena beliau adalah manusia sempurna yang paling sempurna.
D. Sumber Ajaran Tasauf
Menurut para Sufi, bahwa sumber tasauf adalah dari agama Islam itu sendiri, tasauf merupakan saripati dari ajaran Islam yang bersumber dari al-Qur’an, al-Sunnah, aqwal dan aktifitas sahabat, aktifitas dan aqwal tabi’in. Diakui memang banyak pendapat yang mengatakan bahwa ajaran tasauf Islam bukanlah semata-mata lahir dari ajaran Islam tetapi ia lahir merupakan perpaduan atau pengaruh berbagai unsur ajaran agama sebelum agama Islam itu lahir, seperti pengaruh ajaran Hindu, Yahudi, Kristen, Persia, Yunani dan sebagainya. Namun penulis tetap berkeyakinan bahwa tasauf Islam adalah murni bersumber dari semangat dan ruh ajaran Islam itu sendiri serta perilaku Rasul dan sahabat-sahabat beliau, kendatipun terdapat kesamaan antara ajaran tasauf Islam dengan ajaran spiritual agama-agama lain itu hanya secara kebetulan saja. Karena memang semua agama mengajarkan nilai kehidupan spiritual, apakah lagi agama Yahudi, Kristen dan Islam sama-sama bersumber dari yang satu, tentulah ada kesamaan di antaranya tetapi bukan berarti ajaran tasauf Islam merujuk kepada ajaran agama lain selain Islam. Semua agama sealalu berusaha membimbing dan meyadarkan manusia untuk mampu melihat realitas lain yang lebih hakiki, yaitu realitas Ilahi.Dalam Islam, hal-hal yang berhubungan dengan kecerdasan emosi dan spiritual seperti konsistensi (istiqamah); kerendahan hati (tawadhu); berusaha dan berserah diri (tawakkal); ketulusan, totalitas (kaffah); keseimbangan (tawazun); integritas dan penyempurnaan (ihsan) itu dinamakan akhlakul karimah (akhlak yang mulia).
Dasar ajaran tasauf dalam al-Qru’an antara lain:
“Dan kepunyaan Allahlah timur dan barat, maka kea rah manapun kamu menghadap di situ akan kamu jumpai wajah Allah.” (QS. Al-Baqarah: 2/115)
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah); bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabil mereka berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintha-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepas-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 2/186)
“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS. Qaf : 50/16)
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram.” (QS. Ar-Ra’du: 13/28)
Dasar ajaran tasauf dari hadits:
أن تعبد الله كأ نك تراه فإ ن لم تكن تراه فإ نه يراك (متفق عليه)
Artinya:
“Sembahlah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, maka apabila engkau tidak dapat melihat-Nya, maka ia pasti melihatmu. (HR. Bukhari dan Muslim)
Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya, dan barangsiapa yang mengenal Tuhannya niscaya dirinya akan binasa.( al-Hadits)
“Dulu Aku (Allah) adalah sebuah permata tersembunyi, namun Allah ingin dikenal, maka allah menciptakan makhluk dan dengannya Akupun dikenal.” (al-Hadits)
Ingatlah, dalam diri manusia terdapat segumpal daging, apabila daging itu baik, maka akan berpengaruh baik pula kepada tubuh secara keseluruhan, akan tetapi apabila ia rusak, maka rusak pula tubuh secara keseluruhan, daging itu adalah hati. (HR. Bukhari)
Hati adalah suatu hal yang selalu dibahas dan dibicarakan dalam ajaran tasauf, dan inilah yang selalu menjadi objek kajian, tema sentral tasauf. Hati harus selalu diasah dan dipertajam untuk menerima panjaran nur Ilahi melalui dzikrullah, dan amal shaleh lainnya, karena bila hati itu kotor ia tidak akan dapat menerima pancara nur Allah swt. Namun apabila hati itu bersih ia bening lakasana kaca niscaya ia dapat menerima pancaran nur Allah dan dapat pula memantulkan cahaya, disaat hati bersih bening laksana kaca terbukalah baginya hijab (tabir) dan muncullah musahadah, mukasyafah, ma’rifat dan tersingkaplah baginya rahasia-rahasia alam gaib.


E. Tujuan Ajaran Tasauf
Tasauf sebagai asfek mistisisme dalam Islam, pada intinya adalah kesadaran akan adanya hubungan komonikasi manusia dengan Tuhannya, yang selanjutnya mengambil bentuk rasa dekat (qurb) dengan Tuhan. Hubungan kedekatan tersebut dipahami sebagai pengalaman spiritual dzauqiyah manusia dengan Tuhan.Komonikasi antara manusia dengan Tuhan sebenarnya sudah mulai terjalin ketika seseorang berada di alam rahim dalam kontak perjanjian primordial antara Tuhan dengan jiwa-jiwa manusia sebelum lahir, “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, benar, kami mengakui (Engkau Tuhan kami). (QS. Al-A’raf: 7/172). Namun setelah manusia itu lahir ke dunia ini, karena kelalaian manusia akan tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang hamba disebabkan kesibukan duniawi,komonikasi itu nyaris terputus dan seyogianya manusia harus berupaya menjalin komonikasi itu kembali untuk menuju hubungan yang harmonis dan intim dengan Allah swt. Pada hakikatnya setiap ruhani senantiasa rindu ingin kembali ketempat asalnya, selalu rindu kepada kekasihnya yang tunggal. Bilamana kelihatannya, dia lupa disebabkan perjuangan hidup duniawi, lupanya itu karena terpendam, sebab rindu itu, ada pada setiap insan individu, hati kecil selalu rindu ingin bertemu sang kekasih yakni Allah swt.
Tujuan akhir mempelajari ajaran tasauf adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah (taqarrub ila Allah) dalam rangka mencapai ridha-Nya, dengan mujahadah malalui latihan (riyadhah) spiritual dan pembersihan jiwa, atau hati (tazkiyah al-anfus). Jiwa dan tubuh bersifat saling mempengaruhi. Apabila jiwa sempurna dan suci, maka perbuatan tubuh akan baik. Bergitu pula sebaliknya, dengan dihiasi akhlak yang diridhai oleh Allah. Ibrahim bin Adham (w. 742) mengatakan, Tasauf membawa manusia hidup menurut tata aturan kehidupan yang sebenarnya sesuai dengan konsef al-Qur’an dan al-Sunnah sebagaimana dicontohkan Rasulullah saw. seperti hidup sederhana, tidak berlebih-lebihan, syukur, tawadhu, hidup dengan melakukan sesuatu pada tempatnya. Dikalangan para Sufi mendekatkan diri kepada Allah dapat ditempuh dengan berbagai maca cara melewati stasiun-stasiun atau maqamat-maqamat tertentu seperti zuhud, wara’, taubat, raja’, khauf, sabar dan seterusnya sampai pada puncaknya ke tingkat ma’rifat, itulah kenikmatan tertinggi yang di alami dan dirasakan para Sufi yang tidak dapat dilukiskan dan di gambarkan dengan kata-kata ataupun simbol-simbol.Kendatipun pengalaman spiritual itu dicoba untuk dijelaskan dengan kata-kata atau apapun bentuknya, itu tidak akan sama persis dengan apa yang dialami oleh yang menceritakan (Sufi). Pengalaman spiritual seorang Sufi kalau dianalogikan tak obahnya bagaikan rasa mangga, bagaimanapun seseorang menjelaskan rasa magga kepada orang lain tetapi kalau seseorang tersebut belum pernah mencicipi rasa mangga, dapat dipastikan bahwa ia tidak akan paham dan mengerti bagaimana rasanya mangga yang sesungguhnya. Dengan kata lain pengalaman spiritual para Sufi itu dapat dirasakan tetapi tidak dapat diungkapkan. Biasanya beberapa model ungkapan verbal yang dipilih para Sufi dalam menyampaikan pengalaman spiritualnya, yang paling popular adalah penggunaan ungkapan-ungkapan yang bernada puitis, berbentuk humor dan kisah-kisah.Sehingga dengan demikian pesan-pesan, nasehat-nasehat yang mereka tuliskan dapat ditafsirkan para pembaca sesuai dengan kemampuan daya nalar mereka dalam menangkap pesan yang terkandung dibalik teks tersebut.
f. Manfaat Mempelajari Tasauf
Mempelajari tasauf membawa manfaat yang sangat banyak dalam kehidupan ini, baik secara individu, masyarakat, bangsa dan negara. Bila semua orang bertasauf insyaallah bumi ini akan aman dari segala konflik dan permusuhan, karena ajaran tasauf selalu membawa pesan-pesan universal yang bernuansa kesejukan, kedamaian, ketentraman, cinta kasih antara sesama, bahkan dengan alam, lingkungan dan makhluk-makhluk lainnya. Ajaran tasauf datang menembus lintas suku, ras, etnis bahkan agama. Para Sufi seperti Ibn ‘Arabi umpamanya, sangat menghargai dan menghormati pluralisme agama(walaupun tidak menyetujui). Dengan demikian konsep ajaran tasauf sangat toleran, terbuka dan dapat diterima oleh semua golongan, kelompok dan semua kalangan.
Orang-orang yang mengamalkan ajaran tasauf (para Sufi) hidupnya akan terasa lebih bermakna, indah, dan penuh kesederhanaan dalam menjalani kehidupan ini, segala sesuatunya dijalani dengan ikhlas, syukur, sabar, qana’ah, dan tawakkal atas segala ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah untuk dirinya, tidak mengeluh dan tidak putus asa, tetapi selalu optimis dalam mengarungi hidup ini dan segala sesuatunya dikembalikan kepada Allah swt. Para Sufi selalu mampu menangkap pesan-pesan dan hikmah dibalik realitas yang terjadi di alam ini.
Para Sufi sangat menyadari betul akan siapa dirinya dan bagaimana posisinya dihadapan Allah yang menciptakannya dan mereka sudah mampu menguasai hawa nafsu mereka, sehingga dengan demikian segala apa yang mereka lakukan selalu berada dalam koridor kepatuhan, ketaatan dan ketundukan kepada Allah swt. dengan penuh keridhaan, kecintaan dan mereka pun diridhai dan dicintai oleh Allah, bahkan Allah mengundang mereka kesebuah perjamuan yang sangat indah. “Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr: 89/27-30). Orang-orang yang diundang oleh Allah tentunya tidak sembarang orang. tetapi yang diundang adalah mereka yang sudah sampai ketingkat (maqam) insan kamil (manusia paripurna) yang didalam diri mereka sudah tercermin sifat-sifat Tuhan.
G. Tasauf sebagai Solusi utama dalam kehidupan manusia
Di zaman modern dan global sekarang ini, manusia di Barat sudah berhasil mengembangkan kemampuan nalarnya (kecerdesan intelektualnya) untuk mencapai kemajuan yang begitu pesat dari waktu kewaktu di berbagai bidang kehidupan termasuk dalam bidang sains dan teknologi yang kemajuannya tidak dapat dibendung lagi akan tetapi kemajuan tersebut jauh dari spirit agama sehingga yang lahir adalah sains dan teknologi sekuler. Manusia saling berpacu meraih kesuksesan dalam bidang material, soial, politik, ekonomi, pangkat, jabatan, kedudukan, kekuasaan dan seterusnya, namun tatkala mereka sudah berada dipuncak kesuksesan tersebut lalu jiwa mereka mengalami goncangan-goncangan mereka bingung untuk apa semua ini. Kenapa bisa terjadi demikian, karena jiwa mereka dalam kekosongan dari nilai-nilai spiritual, disebabkan tidak punya oreintasi yang jelas dalam menapaki kehidupan di alam dunia ini. Sayyid Hussein Nasr Menilai bahwa keterasingan (alienasi) yang di alami oleh orang-orang Barat karena peradaban moderen yang mereka bangun bermula dari penolakan (negation) terhadap hakikat ruhaniyah secara gradual dalam kehidupan manusia. Akibatnya manusia lupa terhadap eksistensi dirinya sebagai ‘abid (hamba) di hadapan Tuhan karena telah terputus dari akar-akar spiritualitas.Hal ini merupakan fenomena betapa manusia moderen memiliki spiritualitas yang akut. Pada gilirannya, mereka cenderung tidak mampu menjawab berbagai persoalan hidupnya, dan kemudian terperangkap dalam kehampaan dan ketidak bermaknaan hidup.
Keimanan atau kepercayaan pada agama (Tuhan) itu, secara pragmatis merupakan kebutuhan untuk menenangkan jiwa, terlepas apakah objek kualitas iman itu benar atau salah. Secara psikologis, ini menunjukkan bahwa agama selalu mengajarkan dan menyadarkan akan nasib keterasingan manusia dari Tuhannya. Manusia bagaimanapun juga tidak akan dapat melepaskan diri dari agama, karena manusia selalu punya ketergantungan kepada kekuatan yang lebih tinggi diluar dirinya (Tuhan) atau apapun bentuknya dan agama diturunkan oleh Allah untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia sebagai makhluk rasional dan spiritul.
Pandangan dunia sekuler, yang hanya mementingkan kehidupan duniawi, telah secara signifikan menyingkirkan manusia moderen dari segala asfek spiritual. Akibatnya mereka hidup secara terisolir dari dunia-dunia lain yang bersifat nonfisik, yang diyakini adanya oleh para Sufi. Mereka menolak segala dunia nonfisik seperti dunia imajinal atau spiritual sehingga terputus hubungan dengan segala realitas-realitas yang lebih tinggi daripada sekedar entitas-entitas fisik.Sains moderen menyingkirkan pengetahuan tentang kosmologi dari wacananya. Padahal kosmologi adalah “ilmu sakral” yang menjelaskan kaitan dunia materi dengan wahyu dan doktrin metafisis. Manusia sebenarnya menurut fitrahnya tidak dapat melepaskan diri dari kehidupan spiritual karena memang diri manusia terdiri dari dua unsur yaitu jasmani dan ruhani, manusia disamping makhluk fisik juga makhluk non fisik. Dalam diri manusia tuntutan kebutuhan jasmani dan rohani harus dipenuhi secara bersamaan dan seimbang, kebutuhan jasmani dapat terpenuhi dengan hal-hal yang bersifat materi sedangkan kebutuhan ruhani harus dipenuhi dengan yang bersifat spiritual seperti ibadah, dzikir, etika dan amal shaleh lainnya. Apabila kedua hal tersbeut tidak dapat dipenuhi secara adil maka kehidupan manusia itu dapat dipastikan akan mengalami kekeringan dan kehampaan bahkan tidak menutup kemungkinan bisa mengalami stres.
Salah satu kritik yang ditujukan kepada ilmu pengetahuan dan teknologi moderen dari sudut pandang Islam ialah karena ilmu pengetahuan dan teknologi moderen tersebut hanya absah secara metodologi, tetapi miskin dari segi moral dan etika. Pandangan masyarakat moderen yang bertumpu pada prestasi sains dan teknologi, telah meminggrikan dmensi transendental Ilahiyah. Akibatnya, kehidupan masyarakat moderen menjadi kehilangan salah satu aspeknya yang paling fundamental, yaitu asfek spiritual.
Agama Islam datang membawa pesan universal dengan ajaran yang komprehensif menawarkan solusi dalam berbagai permasalahan kehidupan umat manusia diantaranya berupaya untuk mempertemukan kehidupan materialsitis Yahudi dan kehidupan spiritual Nasrani, menjadi kehidupan yang harmonis antara keduanya. Di bawah bimbingan Nabi Muhammad Rasulullah saw. Kaum muslimin dapat membentuk pribadinya yang utuh untuk memperoleh kebahagiaan dunia akhirat dengan melakukan ibadah dan amal shaleh, sehingga mereka memperoleh kejayaan di segala bidang kehidupan.Islam mengajarkan kepada umatnya akan keseimbangan untuk meraih kebahagian dan kesuksesan di dunia dan akhirat secara bersamaan.
PENUTUP
Tasauf Islam suatu ajaran kerahanian (spiritual) yang bersumber dari ruh syari’at Islam itu sendiri yaitu al-Qur’an dan al-Sunnah. Para Sufi dalam mengamalkan ajaran tasauf dengan selalu merujuk kepada akhlak, kepribadian dan ketauladanan Rasulullah swa. Sahabat Nabi yang mula-mula melembagakan ajaran tasauf adalah Huzaifah bin Al-Yamani dengan mendirikan sebuah madrasah yang khusus mengajarkan ilmu tasauf, kemudian dilanjutkan oleh salah seorang muridnya yakni Hasan Al-Basri dari kalangan tabi’in.
Tujuan akhir dari ajaran tasauf adalah untuk mendekatkan diri seorang hamba kapada Allah sebagai Khaliknya melalui riyadhah melewati stasiun-stasiun atau maqamat-maqamat tertentu, dengan selalu mensucikan jiwa (nafs) lahir dan bathin dalam upaya mempersiapkan diri menggapai ma’rifatullah. Apabila seseorang mengalami kebingunagan, kebimbangan, dan kehampaan dalam mengahrungi bahtera kehidupan ini karena mengahadapi berbagai problem dan permasalah silakan kembali kepada agama sesegera mungkin, insyaallah agama islam akan memberikan solusi yang terbaik bagi umatnya. Kehampaan spiritual yang di alami orang-orang Barat, karena disebabkan paradigma peradaban yang mereka bangun dari awal telah menyatakan adanya pemisahan antara sains dan agama, padahal seharunya keduanya harus saling bersinergi. Tasauf Isalam tidak menafikan sains, bahkan tasauf Islam banyak menyumbangkan pemikiran dalam bidang filsafat, sastra, musik, psikologi, dan sains modren.
Masalah keterasingan adalah masalah kejiwaan. Manusia berperan sebagai penyebab munculnya keterasingan dan sekaligus sebagai korban yang harus menanggung akibatnya. Dalam konteks ajaran Islam, untuk mengatasi keterasingan jiwa manusia dan membebaskan dari derita keterasingan, justru harus menjadikan Allah swt sebagai tujuan akhir,Allah yang Maha wujud dan Maha absolut. Segala eksistensi yang relatif dan nisbi tidak berarti dihadapan eksistensi yang Maha absolute yaitu Allah swt.. wallahu ‘alam…

DAFTAR PUSTAKA

1.pengajian-pengajian di Darul hasani center bersama Maulana assyeikh Yusuf al hasani Ra,ust rohimuddin nawawi(kholifatussyeikh),abu almawahib dan lain-lain
2.ihya ulumuddin dan minhajul ‘Abidin (Al imam Gozali)
3.risalah qusyairiyah(al-imam Abd karim al-qusyairy)
4. haqoiq ‘Anittasowwuf(maulana syeikh abd qodir isa al halabi)dll

Oleh : al-faqir Sultan mujahidin

Baca selengkapnya...

Wednesday, November 25, 2009

Perbedaan Menajdi Sebuah Keharusan…!!!

Menurut penulis kalimat “perbedaan menjadi sebuah keharusan…!!! adalah sebuah slogan, kalau pembaca mungkin menganggapnya bukan selogan entah apa istilah yang menurut pembaca yang tepat menurut latar belakang pendidikan kita dan kita melihatnya dari sudut pandang apa…tentunya…! Eh kok memandang yang sudut sich…maksudnya..?? penulis ingin menekankan bahwa dalam memandang sesuatu setiap orang akan berbeda pendapatnya sesuai dengan posisi dan sesuai dengan keadaannya..!! sebelum terlalu dalam kita masuk membahas tentang perbedaan sebaiknya kita tinjau pendapat para ulama’ senior kita (hehe alnya kitakan masih junior amiiin!!) tentang apa itu perbedaan.


Dalam bahasa araab perbedaan sering diistilahkan ‘ikhtilaaf’ atau mukhalafah’ yang artinya menentukan sebuah sikap yang berbeda dengan yang lainnya baik dalam baik dalam tingkah laku maupun ucapan..sedangkan istilah khilaf lebih umum dari berlawanan sebab semua berlawanan pasti akan berbeda dan tidak semua yang berbeda akan berlawanan…sehingga kalau kita merenungkan tuntunan Allah dalam Al-Qur’an dalam menggambarkan perbedaan yang terjadi dalam manusia baik dalam hal penciptaan maupun dalam berpendapat Allah menggunakan kata إختلف dan tidak menggunakan kata خلف .
Mari kita lihat dalam Alqur’an surah maryam ayat 37 (فاختلف الآحزاب ..... ) demikian juga dalam surah Hud ayat 118(.....ولا يزا لون مختلفين) berarti perbedaan adalah sunnah Allah Lebih dalam lagi kita menulusuri alqur’an Dlam surah Fhatir ayat 7-8 Allah berfirman
(ألم تر أن الله أنزل من السماء ماء فأخرجنا به مختلفا ألوانها .........ومن الناس والدواب والانعام مختلف ألوانه كذالك .... )
Demikian juga dalam surah azzaariyat ayat 49 ( ومن كل شيئى خلقنا زوجين لعلكم تذكرون )….
nah kalau begitu kenapa bisa terjadi ikhtilaf..???
Menurut hasil riset para ulama’ senior kita ada dua hal yang junior bisa sampaikan secara garis besar nah kalau secar garis kecilnya biar pembaca aja yang melengkapinya …biar terjadi ikhtilaf ..!!
1. Perbedaan tingkat keceerdasan dan pemahaman
Dalam shahih bukhari dijelskan bahwa rasulullah SAW bersabda sebagaimana yang diriwayatkan oleh Muawiyah RA “ من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين وإنما أنا قاسم والله عز و جل يعطي... )nah yang jadi smartvoipnya adalah kata “ " وإنما أنا قاسمbahwasanya rasulullah SAW membagi ilmu kepaada semua sahabat sama namun dalam hal pemahamn itu berbeda sehingga terjadi perbedaan pendpat serta patawa di antara para kibar sahabiyyiin contoh dalam hal pembgian gonimah sayyidina abu bakar membagi rata semua sahabat tanpa membedakan strata sahabat tersebut berbeda dengan syyidina umar ra beliau membagi harta gonimah dengan membedakan strata para sahabat.
bahkan ada kisah yang sangat indah yang terjadi diantara sahabat dalam tafsir attobary diceritkan ada seorang laki-laki minta fatwa kepada sayyidiana ali ra kemudian ia bertemu dengan syyidina umar dan menceritakan kejadiannya lalu syyidina umar berkata kalau menurutku berbeda dengan pendapat ali ra laki-laki itu berkata terus apa yang menghalangi tuan untuk menghukumi seperti itu padahal tuan adalah amiril mukminin ,,sayyidina umar menjawb seaandainya masalah ini ada dalam alqur’an dan hdits niscaya akan kulakukan akan tetapi ini adalah masalah pendapat dan pendapat itu sama dan aku tidak tahu mana pendapat yang paling benar…!!
2. Berbeda cara pandang dalam nash alquran dan sunnah sesuai dengan tingkat pemahaman
Dalam memknai ini DR Muhammad saalim memberikn penerngan bahwa aqal itu berbeda kemampuannya dalam menelurkan hokum-hukum dalam menenlurkan hukum-hukum dari nash daan berbeda tingkat kemmpuan dalam hal mengethui tingkat maslshat mupun mafsadatnya juga mamfaat maupun mudaratnya dan itu bersumber dari satu nash yang sama dan mempunyai tujuan yang sama yaitu mendpatkan maslahatnya dan menolak mudharatnya….
Nah berarti jeleknya dimana??? beliau melanjutkan lagi bahwa tempat jelekny dlah taashshub berelebihan dengan sebuah fatwa atau pemikiran sehingga menjadikan pengikutnya menganggap bahwa kebenaran haqiqi hanya ada dalam kelompoknya atau thoriqohnya dn menganggap bahwa hanya mereka yang memiliki kunci hikamah itu dan orang lain tidak mendapatkannya dan merasa hanya pendpatnya yang benar yang lainnya salah..!!wah keras juga ini senior kita kasih suntikan buat pembca yang sudah senior dan terutama penulis yang masih junior…!!!
Cara Para sahabt menyikapi sebuh perbedaan…!!!
wah ini penting bagi yang ingin melkskannya kalu gak….!!h asl tulis aja dehhh..!!habis pembhsannnya perbedan y harus beda….
1. perbedaan bukan terjadi disebabkan dengan msalah kepentingan melainkn amanat ilmiyah murni
2. mereka saling menghormati perbedaan pendapat sebagaimana kisah umar tadi
3. perbedaan bukan terjadi dalam masalah ushul akan tetpi masalah puru’ saja dalam hal syri’ah maupun aqidah’..hati2 tanda kutip..!
4. persudraan sebagai muslim yang mengikat diantara mereka yang sangat urgen tidk tergoyahkan dan berat diatas perbedaaan…!!!
Terakhir yaa …ni terakhir pembaca sebuah qoidah ulama’ dalaam menyikapi sebuah perbedaan …tulis arab aja yaa biar kelihatan keren..!! “وكان كل منهم يرى
Oleh: Sukarnawadi, S.Pd

Baca selengkapnya...

  © Blogger template 'Ladybird' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP